|
KESAN Services -
Articles
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja
Hari kedua saya bersekolah di sekolah teologi di kota Dallas hampir tiga puluh tahun yang silam saya melihat di depan pintu kamar saya tertumpuk beberapa potong baju. Kebetulan sampai hari kedua itu teman sekamar saya dalam asrama belum masuk sekolah, sehingga saya masih tinggal di kamar itu seorang diri. Dalam hati saya bertanya-tanya: “Baju milik siapa ini?” Tapi karena tidak mengetahui siapa yang memiliki baju tersebut dan mengapa ia ditumpuk di sana, saya membiarkannya tanpa berupaya untuk menyentuhnya.
Keesokan malamnya, saat makan malam di kantin asrama, seorang mahasiswa yang tidak saya kenal mendatangi saya dan berkata: “Mengapa bajumu tidak engkau masukkan ke dalam kamar?” Dengan agak sedikit bingung saya bertanya balik: “Baju yang mana?” Dengan tersenyum mahasiswa itu berkata: “Itu baju yang tertumpuk di depan pintu kamarmu. Baju itu pemberian saya untukmu. Saya melihat kamu mahasiswa baru yang mungkin tidak membawa banyak baju. Karena itu saya berikan baju-baju tersebut tanpa ingin kamu mengetahui siapa yang memberinya. Namun karena tidak kunjung kamu ambil, terpaksalah saya memberitahu dirimu.”
Apa yang dilakukan oleh teman saya ini sangat mengesankan hati saya. Ia belum mengenal saya, namun perhatian yang sangat besar telah ia tunjukkan kepada seorang pendatang baru yang berasal dari negara lain. Bahkan semula ia bermaksud agar saya tidak mengetahui bahwa dirinyalah orang yang memberikan perhatian tersebut. Itulah kasih persaudaraan yang tulus. Kasih karena ikatan persaudaraan sebagai anggota keluarga Allah. Ikatan persaudaraan oleh karena iman kepada Kristus.
|
|
Read more...
|
|
|
KESAN Services -
Articles
|
Di awal keterlibatan dalam pelayanan, lebih dari dua puluh tahun yang lampau, suatu hari bersama dengan beberapa rekan sepelayanan saya berkunjung ke rumah seorang teman di sebuah kota. Teman saya tersebut mengundang kami dengan maksud agar saya dapat membagikan Injil kepada kedua orang tuanya yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Kami tiba di rumah teman saya tersebut di sore hari. Setelah dijamu makan malam, ayah teman saya mengajak kami duduk di ruang keluarga yang terletak di bagian belakang rumah mereka yang sangat luas. Saya pun mulai bercerita tentang kasih Allah, dan perlunya orang menanggapi kasih tersebut dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
Sementara mendengarkan Injil yang saya bagikan ayah teman saya tersenyum dengan mimik muka yang menunjukkan hati yang berkata: “Ah, anak muda ingusan ini, tahu apa tentang kehidupan?” Memang waktu itu saya relatif masih muda, baru menginjak usia dua puluh tahunan.
|
|
Read more...
|
|
KESAN Services -
Articles
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja
Ketika kereta api untuk pertamakalinya diperkenalkan di Amerika Serikat, sebagian orang merasa takut bahwa sarana transportasi yang baru ini akan menjadi awal dari keruntuhan negara tersebut. Hal ini antara lain dapat dilihat dari surat yang ditulis oleh Martin Van Buren, gubernur negara bagian New York kepada presiden Jackson yang tertanggal 31 Januari 1829.
Ringkasan dari surat tersebut berbunyi demikian: “Sebagaimana Anda ketahui, Bapak Presiden, gerbong kereta api ditarik dengan kecepatan yang luar biasa tingginya yaitu 15 mil per jam oleh mesin, yang di samping membahayakan kehidupan dan anggota tubuh para penumpang, dengan suara yang ribut ia menyusuri pedesaan, menyulut kebakaran atas hasil panen, membuat hewan ternak ketakutan dan mengakibatkan para perempuan serta anak-anak merasa ketakutan. Adalah jelas bahwa Yang Maha Kuasa tidak pernah bermaksud agar manusia melakukan perjalanan dengan kecepatan yang setinggi itu. “
Beruntung surat dari gubernur New York ini tidak dikabulkan oleh presiden Amerika Serikat. Sebab kalau saja rencana pembangunan jalur kereta api dengan kecepatan 15 mil per jam itu dibatalkan bisa jadi Amerika Serikat tidak mengalami kemajuan seperti hari ini.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 7 of 153 |