SENTIMEN PDF Print E-mail
Articles
Written by martha pratana   
Saturday, 21 July 2007 02:17

"SENTIMEN"
Sebuah kisah yang sangat mengesankan.

Keluarga Han dan keluarga Song bertempat tinggal bersebelahan di propinsi Thai Chong beberapa abad silam. Han merupakan pedagang buah-buahan sedangkan Song pedagang tahu. Mereka bertetangga dan menjalankan usaha masing-masing di depan rumah mereka.

Suatu hari, ketika musim kemarau melanda propinsi Thai Chong mengakibatkan langkah kaki kuda yang menapak di atas tanah kering dan berlalu lalang di depan rumah mereka menimbulkan debu-debu yang berterbangan ke segala penjuru.

Debu-debu mengotori udara di sekitar tempat tinggal mereka, termasuk barang-barang dagangan mereka berdua.
Song berniat baik untuk mencegah debu-debu di jalan berterbangan, menyirami jalan tanah di depan rumah mereka dan sekitarnya, termasuk jalan di depan rumah keluarga Han. Menyaksikan jalan di depan rumahnya disirami, Han bukannya berterima kasih, sebaliknya Han yang cenderung berpikiran negatif dan terkenal suka mencari masalah dgn org lain, menyalahkan Song. Han memperingati Song agar jangan menyirami jalan di depan rumahnya. Selanjutnya Song hanya menyirami air di depan rumahnya saja. Merasa belum puas Han memberi peringatan kedua kali agar Song jangan sama sekali menyirami jalan. Song tidak menanggapi Han, sebagai akibatnya sebuah dendam tergores di hati Han."

Dendam yang tergores mengakibatkan Han tidak menyudahi usahanya dalam mencari-cari kesalahan Song. Kini Han mengalihkan permasalahan kepada pohon jeruk yang ditanam Song di halaman belakang rumahnya. Selama ini buah jeruk di dahan pohon yang tumbuh melewati pagar halaman Song dipetik dan dinikmati oleh Han, namun Song tidak mempermasalahkannya, karena menurutnya itu adalah rejeki Han yang dapat turut menikmati buah jeruk yang ditanamnya. Malahan sebagian jeruk diberikan Song kepada Han untuk dijual tanpa meminta imbalan apapun. Kini Han mempermasalahkan daun-daun dan ranting pohon jeruk yang mengotori halaman belakangnya. Ia menuntut agar Song membersihkan halamannya. Song yang sabar membersikan halaman Han, kemudian ia memotong dahan-dahan pohon yang tumbuh melewati pagar halaman Han agar daun-daun dan ranting pohon jeruk tidak berjatuhan lagi di halaman rumah Han. Sampai di sini Han merasa dirugikan karena tidak dapat menikmati buah jeruk lagi. Hal ini semakin menimbun dendam di hati Han.

Beberapa hari kemudian, Han terperajat ketika Song mengantarkan sekeranjang jeruk ke rumahnya. Namun kebaikan Song masih saja dicurigai oleh Han. Setelah Song pulang, Han mengupas seluruh jeruk di keranjang untuk meyakinkan dirinya apakah jeruk-jeruk tersebut beracun atau tidak. Akhirnya sekeranjang jeruk tersebut tidak dapat dijual lagi, dan jeruk yang telah dikupas kulitnya tidak habis dimakan Han sehingga banyak terbuang. Atas ketabahan dan kebaikan Song, Han mulai menyadari berbagai kekeliruannya, namun Han belum sepenuhnya berubah. Suatu sore, saat hujan mengguyur dan mengakibatkan banjir, Han menyalahkan Song yang rumahnya terletak di dataran yang lebih tinggi sehingga air dari halaman rumah Song mengalir ke rumahnya. Karena Song tidak dapat mencegah sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah, Han menjadi murka. Ia melaporkan Song ke pejabat setempat. Han berkata pada pejabat bahwa Song menyebabkan seluruh barang di rumahnya terendam air. Pejabat menanyakan berapa kerugian yang dialami Han. Han menjawab, "Sebesar 20 tael emas, namun bisa dicicil 5 kali". Pejabat menanyakan bagaimana Han begitu yakin bahwa Song sanggup membayar ganti rugi yang kemudian dijawab oleh Han bahwa biasanya apapun permintaan atau tuntutannya pada Song, pasti Song akan memenuhinya. Kemudian giliran Song berkata kepada pejabat bahwa bukan kemauannya air mengalir merendami rumah Han. Pejabat lalu berkata kepada Han, Song akan mengganti seluruh kerugianmu bila Han dapat membuktikan air mengalir dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi. Han tersipu malu atas kebijaksanaan pejabat itu karena Han ternyata memang tidak sanggup melakukannya, sehingga masalah dianggap selesai.

Ditengah perjalanan pulang, Han tersandung akar pohon, sehingga ia jatuh terjerambab. Han mengalami patah kaki. Menyaksikan kemalangan Han, Song memapahnya ke tabib. Setelah itu Song memampahnya kembali kerumah. Sejak saat itu Han tidak lagi mencari-cari kesalahan atau berusaha menimbulkan masalah kepada Song. Ia telah benar-benar menyadari kesalahan dan kekeliruannya. Akhirnya kedua keluarga tersebut hidup rukun dan harmonis.

Cerita di atas adalah cerita yang diambil dari internet. Moral atau pesan yang disampaikan adalah "Kebencian tak akan berakhir bila dibalas dengan kebencian. Kebencian akan segera berakhir bila dibalas dengan ketulusan dan cinta kasih."

Kita tidak tahu apakah cerita tersebut sebuah cerita rekaan ataukah memang pernah terjadi demikian. Dan walaupun dikatakan bahwa peristiwanya terjadi berabad-abad yang silam, namun cerita ini masih begitu relevan di zaman ini. Di zaman ini mungkin orang akan menerjemahkan perilaku Han dengan istilah "sentimen".

Jika seseorang "sentimen" dengan seseorang yang lain, maka apapun yang dilakukan orang yang tidak disukai itu akan selalu tampak negatif. Fenomena ini juga dialami Yesus. Orang Farisi sangat "sentimen" kepada Yesus, sehingga apapun yang dilakukan Yesus selalu saja salah. Yesus menyembuhkan orang di hari Sabat: salah! Yesus bergaul dengan pemungut cukai: salah! Yesus mengatakan Dia dapat mengampuni dosa manusia: salah! Yesus mengatakan Dia akan mati, namun Dia akan bangkit lagi: salah! Yesus... (apapun yang Dia lakukan atau katakan): salah!

Bagaimana dengan kita? Pernahkah seseorang begitu sentimen kepada kita, sehingga apapun yang kita perbuat semuanya akan tampak negatif? Ataukah kita sudah menjadi seseorang yang demikian sentimennya pada orang lain, sehingga penilaian kita menjadi kacau dan tidak lagi obyektif terhadap orang tersebut? Kita tidak lagi dapat membedakan manakah kelebihan dan manakah kekurangan orang tersebut. Kita juga tidak dapat melihat kekuatannya, tetapi selalu dapat menemukan kelemahannya.

Akar dari perasaan sentimen ini bisa bermacam-macam. Ada orang yang sentimen karena ia merasa pernah dilukai, sehingga paradigmanya kini selalu negatif tentang orang yang melukai itu. Ada juga berawal dari adanya perseteruan atau persaingan, entah dalam hal apa, sehingga semata-mata yang dilihat, didengar atau diucapkan selalu tidak sedap. Ada juga orang sentimen tanpa sebab yang jelas, katanya karena "chemistry" atau "sifat kimiawi" yang sudah tidak cocok dari awalnya. Jika demikian, belum sempat berkenalan pun, orang bisa merasa sentimen kepada orang lain.

Apapun awalnya, Alkitab meminta kita untuk menyelaraskan sikap sentimen itu menjadi bentuk mengasihi. Simaklah apa yang ditulis dalam:

  1. Matius 5:43-44, " Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."
  2. Lukas 6:27, "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;"
  3. Lukas 6:35, "Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat."

Selain itu, kata-kata yang diucapkan oleh beberapa orang terkenal ini mungkin bisa membawa pencerahan dan perenungan buat kita semua:

"Am I not destroying my enemies when I make friends of them?" -

(Bukankah aku sedang menghancurkan musuhku ketika aku bersahabat dengannya?) -- Abraham Lincoln

"Love is the only force capable of transforming an enemy into friend." -

(Kasih adalah satu-satunya kekuatan yang akan mengubah seorang musuh menjadi teman) -- Martin Luther King Jr.

"Be civil to all; sociable to many; familiar with few; friend to one; enemy to none."-

(Bersikaplah manusiawi kepada semua orang; ramah terhadap banyak orang; berkarib dengan beberapa orang, bersahabat dengan seseorang; bermusuhan dengan tak seorangpun) -- Benjamin Franklin.

Oleh: Martha Pratana

Artikel ini pernah dimuat dalam warta jemaat GKPB MDC - Surabaya

 

Comments
Search
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System

GKPB.NET Comment System"

Last Updated on Saturday, 21 July 2007 06:42
 
Latest Message: 1 week ago
  • bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
  • Lorna : halo semua
  • Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
  • cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
  • cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
  • cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
  • Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
  • Riona : hallo, salam kenal semua
  • Riona : hallo, salam kenal semua..
  • hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
  • hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
  • julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
  • Toni HW : hallo, world...
  • micro : salam kenal, Gbu all
  • modalcoin : Salam kenal semua :-)
  • Johan : hello all
  • tolib : apa???
  • tolib : hai... ada yg lg
  • tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
  • Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
  • theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
  • martha prata : gbu too Tolib!
  • tolib : happy day GBU ALL
  • tolib : happy day... GBU ALL !!!
  • tolib : happy day,...

Only registered users are allowed to post