Pengalaman yang membentuk iman PDF Print E-mail
Articles
Written by Thomas E. Rahadja   
Wednesday, 02 June 2010 12:27
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja

Pengalaman merupakan guru yang baik, kata pepatah. Hal ini  selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Benjamin Bloom, seorang guru besar ilmu pendidikan dari University of Chicago. Yang bersangkutan mengatakan bahwa setiap orang belajar di dalam tiga area atau ranah, yaitu kognitif atau pengetahuan, psikomotorik atau ketrampilan, dan afektif atau perasaan yang mencakup antara lain karakter dan tata nilai. Orang menyederhanakan istilah teknis dari ketiga ranah tersebut sebagai 3H, yaitu head atau kepala untuk menggambarkan raah pengetahuan, hand atau tangan yaitu ranah ketrampilan dan heart atau hati yaitu ranah afektif.

Pembentukan setiap ranah tersebut memerlukan metoda yang berbeda. Dengan membaca buku dan mendengar ceramah orang dari tidak tahu menjadi tahu, itulah pengembangan ranah head. Dengan berlatih secara langsung di lapangan orang dari tidak trampil menjadi trampil, itulah pengembangan ranah hand. Sedangkan ranah heart, yaitu sifat dan tata nilai tidak dapat dikembangkan hanya dengan membaca buku atau mendengar ceramah saja. Tidak jarang kita bertemu dengan orang yang memiliki pengetahuan yang luas, namun sifat atau karakter yang bersangkutan tidak selaras dengan pengetahuan yang ia miliki.

Untuk ranah heart, pengalaman hidup merupakan guru yang baik. Karakter dan tata nilai dibentuk dengan menolong orang mengambil hikmah atau pelajaran yang bermakna dari pengalaman hidup yang ia lalui. Karena itu di dalam proses pendidikan para peserta didik bukan hanya dibekali dengan pengetahuan dan diasah ketrampilannya, tetapi karakter serta tata nilainya juga dibentuk yaitu melalui pengalaman-pengalaman hidup yang dengan sengaja dirancang sesuai dengan yang diharapkan.

Cara yang sama pulalah yang dilakukan Yesus untuk membentuk iman para murid-Nya. Ia bukan hanya mengajar untuk membekali mereka dengan pengetahuan, tetapi juga dengan sengaja Ia membawa mereka melewati berbagai pengalaman yang Ia rancang untuk membangun iman mereka. Itulah yang antara lain dapat kita lihat di dalam mujizat meneduhkan badai yang Yesus lakukan dan yang dicatat di dalam Markus 4:35-38.

Markus 4:35-38

35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."  36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.  37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.  38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"  39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.  40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"  41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"  


I.      Melakukan kehendak Tuhan tidak bebas dari badai

Hari itu Yesus mengajar orang banyak di pinggir danau Galilea sementara Ia sendiri duduk di atas perahu, dan kemudian Ia mengajar para murid-Nya secara khusus di dalam sebuah rumah. Selesai mengajar Ia pun mengajak para murid-Nya untuk bertolak ke seberang danau dengan perahu yang sebelumnya Ia pakai untuk mengajar. Sebagian dari orang banyak itu menyertai-Nya dengan perahu-perahu yang lain. Nampaknya mereka tidak ingin berpisah dari Yesus.

Sementara mereka berada di tengah danau, datanglah taufan yang dahsyat mengamuk dan membuat air danau mulai memenuhi perahu. Memang letak geografis danau Galilea mengakibatkan sesekali terjadi taufan semacam ini.  Danau ini berada di bawah 200 meter dari permukaan laut dan dikelilingi oleh perbukitan yang setinggi 600 meter di atas permukaan laut. Di senja hari ketika angin bertiup melewati perbukitan, angin tersebut dapat turun dengan cepat ke permukaan danau dan menimbulkan badai.

Walaupun Yesus bukan seorang nelayan dan tidak dibesarkan di pinggir danau Galilea, tetapi sebagai Tuhan yang maha tahu tentunya sebelum mengajak para murid-Nya untuk bertolak ke seberang Ia sudah mengetahui akan datangnya badai ini di senja hari tersebut. Patut dicatat bahwa apabila para murid Yesus berada di danau pada senja tersebut hal itu bukan karena mereka yang menghendakinya. Bukan mereka yang mengajak Yesus untuk bertolak ke seberang, tetapi Yesuslah yang mengajak dan menyuruh mereka untuk pergi ke seberang danau.

Sekarang, kalau Ia memang sudah mengetahui akan datangnya badai tersebut, mengapa Ia dengan sengaja mengajak para murid-Nya untuk mengarungi danau itu dengan perahu? Nampaknya dengan cara demikian Ia mengajar para murid-Nya bahwa melakukan kehendak Tuhan bukan berarti hidup bebas dari badai. Ya, melakukan perintah Tuhan bukan berarti hidup bebas dari hambatan. Artinya di saat melakukan kehendak Tuhan kita juga harus siap untuk menghadapi tantangan dari sekitar kita karena ketaatan kita kepada kehendak Tuhan.


II.      Berjalan bersama Tuhan bukan bebas dari badai

Sebagaimana yang ditulis di dalam Markus 4:38, pada waktu badai itu sedang menerjang dan hampir menenggelamkan perahu yang Ia tumpangi Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Ia seakan-akan bersikap tidak perduli dengan bahaya yang sedang mengancam.

Tak jarang tentang peristiwa ini orang keliru menafsirkannya. Sebagian orang menafsirkan bahwa para murid Yesus mengalami badai karena mereka telah membiarkan Yesus tertidur dan tidak menjadikan Yesus sebagai nakhoda dalam perahu yang mereka tumpangi. Dengan demikian para penafsir tersebut bermaksud mengatakan perlunya orang menempatkan Yesus sebagai pemegang kendali dalam kehidupan.

Memang sangatlah benar bahwa kita harus meminta Yesus sebagai pribadi yang memegang kendali dalam hidup kita. Hanya saja langkah-langkah penafsiran atas peristiwa ini yang membawa orang sampai kepada kesimpulan tersebut sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan. Adalah sangat jelas bahwa bila Yesus tidur di perahu, hal tersebut bukan karena para murid-Nya yang membuat Ia jatuh tertidur. Adalah jelas bahwa hidup di dalam pengendalian Tuhan bukan berarti bebas dari hambatan.

Justru yang terjadi adalah bila mereka berada di danau sehingga menghadapi badai tersebut karena Yesus yang menyuruh mereka untuk bertolak ke seberang. Dan sekarang saat mereka menghadapi bahaya, malahan Yesus tetap tidur dan seakan-akan membiarkan mereka menghadapi bahaya itu seorang diri. Tidak heran seperti yang dicatat di dalam Markus 4:38 dikatakan maka murid-murid-Nya membangunkan Dia.

Memang di dalam situasi seperti itu orang acapkali salah mengartikan tujuan Tuhan. Apalagi bila di tengah pergumulan tersebut mereka beranggapan bahwa sepertinya Tuhan lepas tangan, tidur dan membiarkan mereka harus berjuang seorang diri untuk mengatasi badai. Tak jarang seperti para murid Yesus, mereka mejadi marah kepada Tuhan, dan berkata: "Tuhan, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"

Hal ini mengajar kita bahwa sesungguhnya hidup berjalan bersama dengan Tuhan tidak dengan sendirinya hidup bebas dari hambatan. Pergi menyeberangi danau karena melakukan perintah Yesus dan bersama dengan Yesus di dalam perahu bukan berarti perjalanan yang bebas dari badai.


III.      Tuhan menggunakan badai untuk mengajar tentang iman

Menanggapi para murid-Nya yang membangunkan Dia sambil memohon pertolongan yang bercampur rasa marah tersebut di dalam Markus 4:39-40 dicatat demikian: Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"

Nampak bahwa Yesus dengan sengaja merancang untuk membawa para murid-Nya melewati pengalaman badai di tengah danau ini untuk membangun aspek afektif atau ranah heart dalam diri mereka. Di dalam hal ini Ia ingin mengajar mereka di dalam dua aspek afektif, yaitu yang pertama mengenal Dia, dan yang kedua iman kepada-Nya.

Tentang aspek pertama, yaitu mengenal Yesus, hal ini tidak dapat dipersamakan dengan mengetahui siapakah Yesus. Apabila mengetahui adalah pada tataran kognitif atau pengetahuan, maka mengenal adalah pada tataran pengalaman berelasi dengan Yesus. Untuk mengetahui siapa Yesus, orang dapat memperoleh pengetahuan tersebut dari membaca buku atau mendengar ceramah. Tetapi pengetahuan tersebut tidak dengan sendirinya membuat yang bersangkutan mengenal Yesus dan memiliki relasi dengan Dia secara pribadi.

Sesudah sepanjang hari mengajar para murid-Nya dengan berbagai pengetahuan tentang Kerajaan Allah, sekarang waktunya bagi Yesus untuk mengajar mereka melalui pengalaman agar mereka mengenal siapa diri-Nya yang sebenarnya, yaitu pribadi yang berkuasa atas alam dan mampu mengendalikan kekuatan alam. Dengan demikian mereka bukan hanya sekedar tahu bahawa Yesus adalah penguasa dari Kerajaan Allah, tetapi juga mengalami sendiri kuasa-Nya tersebut.

Tidaklah mengherankan bila pengenalan tersebut membuat para murid semakin lebih ketakutan, sebab mereka sadar bahwa sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan Sang Penguasa Alam Semesta sendiri. Bila kekuatan alam yang tak mampu mereka kendalikan menakutkan mereka, apalagi Pribadi yang mampu mengendalikan alam tersebut. Itu sebabnya di dalam Markus 4:41 dicatat: mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"  

Aspek yang kedua, yaitu iman. Hal ini tak dapat dipersamakan dengan mengetahui tentang siapa Tuhan secara koginitif saja. Bukan berarti orang tidak perlu memiliki pengetahuan yang benar tentang siapa Tuhan. Tentu setiap orang perlu mempunyai pengetahuan tersebut dan bertumbuh di dalamnya. Namun itu saja tak cukup. Orang harus melewati pengalaman-pengalaman yang menolong mereka untuk mempraktekkan iman mereka. Itu sebabnya sesudah membawa para murid-Nya melewati badai, Yesus bertanya kepada mereka: “Mengapa kamu tidak percaya?”

Singkat kata, bila kita hidup melakukan kehendak Tuhan dan hidup di dalam penyertaan-Nya, dan karena itu kita menghadapi tantangan, kita tidak usah takut. Tuhan adalah pribadi yang memegang kendali atas alam semesta. Ia bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya. Dengan cara itu Ia membawa kita untuk semakin mengenal diri-Nya dan bertumbuh dalam iman kepada-Nya. Sehingga dengan demikian iman dan pengenalan tersebut bukan sekedar sebatas pengetahuan, tetapi merupakan pengalaman yang membawa hidup kita semakin bertambah bermakna.
Comments
Search
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System

GKPB.NET Comment System"

 
Latest Message: 4 days, 23 hours ago
  • bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
  • Lorna : halo semua
  • Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
  • cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
  • cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
  • cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
  • Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
  • Riona : hallo, salam kenal semua
  • Riona : hallo, salam kenal semua..
  • hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
  • hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
  • julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
  • Toni HW : hallo, world...
  • micro : salam kenal, Gbu all
  • modalcoin : Salam kenal semua :-)
  • Johan : hello all
  • tolib : apa???
  • tolib : hai... ada yg lg
  • tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
  • Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
  • theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
  • martha prata : gbu too Tolib!
  • tolib : happy day GBU ALL
  • tolib : happy day... GBU ALL !!!
  • tolib : happy day,...

Only registered users are allowed to post