Iman yang mengubah kemerosotan PDF Print E-mail
Articles
Written by Thomas E. Rahadja   
Monday, 07 June 2010 15:50
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja

Menjelang musim dingin beberapa tahun yang silam saya melakukan kunjungan pelayanan ke Belanda. Sementara berjalan melewati beberapa bagian kota Amsterdam mata saya tertarik kepada pengumuman yang digantungkan di depan beberapa pintu gerbang gedung gereja. Pengumuman-pengumuman tersebut ditulis di dalam bahasa Belanda, dan satu dengan yang lain isinya hampir sama. Di sana dituliskan bahwa selama musim dingin gereja tersebut diliburkan, dan bila ada anggota jemaat memerlukan pelayanan yang bersifat darurat yang bersangkutan dapat menghubungi nomor telpon gereja lain yang akan tetap beroperasi selama musim dingin.

Saya perhatikan lebih dari separoh gedung gereja di Amsterdam memasang pengumuman seperti itu. Berarti lebih separoh dari gereja-gereja di kota tersebut diliburkan selama musim dingin.

Saya bertanya kepada seorang kawan yang adalah gembala gereja di Amsterdam dan yang menemani saya saat itu mengapa pengumuman semacam itu ditaruhkan di sana? Dengan tersenyum teman saya menjawab: “Karena selama musim dingin orang jarang ke gereja untuk beribadah. Oleh karena itu demi efisiensi supaya tidak harus menyalakan mesin pemanas ruangan dari gedung yang mampu menampung lima ratus orang hanya untuk lima sampai sepuluh gelintir jemaat, maka lebih baik gereja diliburkan dan seluruh kegiatan dan pelayanan digabungkan menjadi satu bersama dengan beberapa gereja lainnya.”

Walaupun dari sisi efisiensi tenaga listrik dan bahan bakar tindakan meliburkan gereja selama musim dingin tersebut adalah tepat, tetapi hal tersebut juga menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan dari kekristenan di Eropa. Merupakan suatu realita bahwa kebanyakan gereja di musim semi ataupun musim panas juga dalam keadaan yang kosong. Kalau pun ada jemaat yang datang beribadah hampir seluruhnya adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Sangat jarang kita menemukan ada anak muda datang beribadah di gereja. Bahkan tidak sedikit gedung-gedung gereja di sana yang telah berubah fungsi yaitu menjadi gedung museum, pasar bahkan tempat ibadah bukan Kristen.

Kemerosotan ini sepertinya tak terbendungkan lagi, dan seakan-akan tidak ada lagi harapan bagi kekeristenan di benua Eropa. Namun di tengah-tengah suasana keagamaan yang sangat memprihatinkan tersebut nampak secercah harapan, yaitu pertumbuhan yang terjadi di kalangan Kristen Injili di benua tersebut. Walaupun jumlah mereka hanya dua persen dari jumlah penduduk Eropa, namun pertumbuhan yang terjadi di antara mereka, termasuk di antara anak-anak muda sangatlah menggembirakan.

Di Perancis misalnya, pertumbuhan orang Kristen yang mempercayai bahwa Alkitab adalah benar-benar firman Allah dan Yesus adalah Mesias dan Tuhan yang sejati di dalam lima puluh tahun terakhir terjadi delapan kali lipat. Dari semula hanya sekitar 50,000 orang, lima puluh tahun kemudian pada tahun 2006 jumlah mereka sudah mencapai 400,000 orang.  Sementara itu di saat yang sama kelompok-kelompok kristen yang tidak lagi mempercayai bahwa Alkitab adalah firman Allah dan meragukan bahwa Yesus adalah Tuhan mengalami kemerosotan yang sangat drastis.

Hal ini menunjukkan bahwa baik di dalam kehidupan keagamaan maupun di dalam kehidupan sehari-hari ada pengharapan untuk menghentikan proses kemerosotan yang terjadi. Kemerosotan dalam kehidupan rumah tangga, kesehatan, maupun ekonomi yang seakan-akan tak terbendung akan dapat diubah menjadi pemulihan bila orang beriman dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Hal tersebutlah yang dapat kita lihat terjadi atas diri seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan dan sudah berada di titik kristis dalam hidupnya. Sebagaimana yang dicatat di dalam Markus 5:25-34 imannya kepada Yesus mendorong dirinya untuk datang kepada Yesus dan mengalami mujizat pemulihan dalam hidupnya.

Markus 5:25-34

25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.  26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.  27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.  28 Sebab katanya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."  29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.  30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: "Siapa yang menjamah jubah-Ku?"  31 Murid-murid-Nya menjawab: "Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?"  32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.  33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.  34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!"


I.      Jasmaniah yang merosot

Sementara Yesus berjalan menuju ke rumah Yairus, kepala rumah ibadat yang memohon pertolongan-Nya sehubungan dengan anaknya yang sakit dan hampir mati, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Di situ terdapat seorang perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun lamanya. Sebagaimana layaknya seorang yang mengalami pendarahan, tubuh yang bersangkutan tentulah semakin lama semakin melemah.

Di dalam masa dua belas tahun tersebut perempuan ini telah berupaya untuk mencari jalan keluar, yaitu dengan berkunjung ke berbagai tabib untuk memperoleh pengobatan. Semua upaya itu mengharuskan yang bersangkutan mengeluarkan biaya sehingga hartanya semakin lama semakin berkurang. Bukan saja kekuatan tubuhnya yang semakin merosot, kekayaannya pun semakin merosot. Singkat kata, kehidupan jasmaniah perempuan ini selama dua belas tahun berada di dalam keadaan merosot.

Lebih dari pada itu, sebagaimana yang dicatat di dalam Markus 5:26, semua upaya yang dilakukan oleh perempuan ini untuk menghentikan kemerosotan kesehatannya tidak berhasil. Malah sebaliknya dari sembuh keadaan yang bersangkutan semakin memburuk dan semua hartanya telah habis. Berarti ia sedang berada di titik yang kritis. Keuangannya dalam keadaan kritis, dan kesehatannya dalam keadaan yang gawat. Perempuan ini sedang berada di titik yang terendah atau titik nadir dari jurang kehidupannya yang sangat kelam.


II.      Batiniah yang menderita

Bukan saja secara jasmaniah perempuan ini dalam keadaan menderita, tetapi secara rohaniah dalam peraturan agama Yahudi yang bersangkutan dianggap sebagai seorang yang najis. Sebagaimana yang ditulis di dalam Imamat 15:19-23, perempuan yang mengalami pendarahan dianggap dalam keadaan cemar. Sesudah ia berhenti mengalami pendarahan pun selama tujuh hari berikutnya ia masih dianggap dalam keadaan cemar.

Imamat 15:19-23

19 Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam. 20  Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga.  21 Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.  22  orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.  23 Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam.

Keadaan dirinya yang dianggap cemar tersebut membuat apa saja yang disentuh oleh perempuan yang mengalami pendarahan juga dianggap sebagai ikut menjadi najis. Bahkan orang yang menyentuh perempuan itu maupun segala sesuatu yang telah disentuh oleh perempuan itu akan menjadi najis sepanjang hari sampai matahari terbenam. Bagi orang Yahudi hal ini sangat serius, sebab selama yang bersangkutan dalam keadaan najis maka ia tidak boleh berdekatan dengan orang lain. Sehingga akibatnya tentu orang akan menghindari perempuan ini agar tidak ikut menjadi cemar bersama dengan yang bersangkutan.

Dengan demikian dapat dibayangkan betapa beratnya penderitaan batiniah yang dialami oleh perempuan yang sakit pendarahan ini. Bukan saja kesehatannya semakin memburuk, harta kekayaannya semakin lama semakin habis, semua usahanya untuk memulihkan dirinya telah gagal dan selama dua belas tahun tersebut ia dihindari oleh orang lain. Ia harus menanggung semua penderitaannya seorang diri dalam kesepian.


III.      Iman yang mengubah

Di tengah-tengah masa penderitaannya tersebut perempuan ini mendengar berita-berita tentang Yesus. Tentu ia mendengar bagaimana Yesus melakukan berbagai mujizat yang memulihkan kehidupan banyak orang di seluruh penjuru Galilea. Berita-berita yang membangkitkan kembali pengharapan di dalam dirinya. Ia percaya bila saja ia sempat bertemu dengan Yesus maka penderitaannya akan berakhir.

Karena itu ia mengambil keputusan untuk menjumpai Yesus. Di saat ia datang ke tempat Yesus berada ia melihat kerumunan orang banyak sedang mengelilingi Yesus. Situasi ini membuat dirinya tak berkesempatan berbicara secara langsung dengan Yesus untuk memohon pertolongan-Nya. Keberadaan orang banyak tersebut membuat diri perempuan ini tak memiliki kesempatan untuk menceritakan kepada Yesus tentang penderitaan yang sedang ia alami.

Perempuan ini pun mengambil keputusan untuk mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Ia yakin tanpa harus menceritakan terlebih dahulu persoalannya, dan tanpa harus Yesus meletakkan tangan pada dirinya, asal ia ia dapat menjamah jubah Yesus pasti ia akan sembuh. Akibatnya seketika itu berhentilah pendarahannya. Di dalam Markus 5:29 dicatat maka Yesus berkata kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" Iman perempuan ini membuat dirinya mengalami kesembuhan. Kemerosotan yang ia alami berhenti dan pemulihan dirinya terjadi.

Iman yang seperti itulah yang akan menghentikan kemerosotan rohani maupun jasmani. Iman yang seperti itulah yang membuka pintu mujizat. Iman yang seperti itulah yang diperlukan bukan hanya oleh orang Kristen di Eropa dan Amerika, tetapi oleh setiap kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Iman kita kepada kuasa Tuhan Yesus yang tak terbatas itu akan membuka lembaran baru dalam diri kita, yaitu kehidupan yang penuh dengan makna.
Comments
Search
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System

GKPB.NET Comment System"

 
Latest Message: 4 days, 23 hours ago
  • bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
  • Lorna : halo semua
  • Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
  • cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
  • cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
  • cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
  • Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
  • Riona : hallo, salam kenal semua
  • Riona : hallo, salam kenal semua..
  • hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
  • hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
  • julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
  • Toni HW : hallo, world...
  • micro : salam kenal, Gbu all
  • modalcoin : Salam kenal semua :-)
  • Johan : hello all
  • tolib : apa???
  • tolib : hai... ada yg lg
  • tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
  • Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
  • theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
  • martha prata : gbu too Tolib!
  • tolib : happy day GBU ALL
  • tolib : happy day... GBU ALL !!!
  • tolib : happy day,...

Only registered users are allowed to post