Message:
  • You must log in first
  • Please Login
Pentingnya kepemimpinan yang bertanggungjawab PDF Print E-mail
Articles
Written by Thomas E. Rahadja   
Saturday, 12 June 2010 15:52
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja

Seorang filsuf dari Tiongkok yang hidup dua ribu empat ratus tahun yang lampau pernah berkata demikian: “Suatu negara akan berada di dalam keadaan sejahtera bila tiga syarat terpenuhi. Syarat yang pertama bila negara tersebut memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Kedua bila ekonomi negara tersebut dalam keadaan yang lancar. Ketiga bila pemimpin negara dapat diandalkan oleh rakyatnya.”

Lebih jauh lagi yang bersangkutan berkata demikian: “Bila syarat pertama tidak terpenuhi, asal kedua syarat berikutnya dapat kita temukan, negara tersebut akan tetap berada di dalam keadaan sejahtera.” Artinya, bila negara tersebut tidak memiliki angkatan bersenjata yang kuat, selama ekonomi negara itu dalam keadaan yang sehat dan pemimpinnya dapat dipercaya oleh rakyatnya maka masyarakat akan tetap dalam keadaan sejahtera.

Kemudian filsuf itu berkata lagi sebagai berikut: “Bila syarat yang pertama dan kedua tidak terpenuhi, selama syarat ketiga masih didapatkan di negara tersebut maka rakyat relatif masih tetap sejahtera.” Yang ia maksudkan adalah bila negara itu tidak memiliki angkatan bersenjata yang kuat dan semisalkan negara tersebut mengalami bencana alam seperti kemarau yang sangat panjang sehingga perekonomian dalam situasi yang sulit, tetapi selama si pemimpin dapat diandalkan oleh rakyatnya maka masyarakat masih tetap berada di dalam keadaan sejahtera.

Singkat kata, dengan demikian berarti kepemimpinan merupakan faktor yang sangat berperan besar dalam menentukan keadaan kelompok yang ia pimpin. Kelompok tersebut dapat berbentuk keluarga sebagai unit sosial yang terkecil, dapat berbentuk suatu organisasi dan juga dapat berbentuk suatu masyarakat. Bagaimana keadaan rohani suatu keluarga misalkan, sangatlah ditentukan oleh bagaimana keadaan rohani dari si kepala keluarga. Bila seorang suami sebagai kepala keluarga hidup dalam kerohanian yang sehat maka sangatlah besar kemungkinannya kerohanian keluarga tersebut juga akan sehat. Sebaliknya bila seorang suami hidup dalam kerohanian yang porak poranda maka dapat diperkirakan kerohanian keluarganya juga akan ikut berantakan.

Pentingnya peranan seorang pemimpin dan pengaruhnya terhadap orang-orang yang ia pimpin ini dapat dilihat dari catatan Matius 9:35-38 tentang situasi bangsa Israel dua ribu tahun yang lampau dan apa yang menjadi penyebabnya. Di dalam catatan Matius diungkapkan keadaan yang sangat memprihatinkan dari masyarakat yang dilayani oleh Yesus pada masa itu dan melalui memperbandingkannya dengan peranan seorang gembala terhadap kawanan domba yang ia gembalakan Matius menjelaskan alasan mengapa keadaan masyarakat tersebut sedemikian memprihatinkannya.

Matius 9:35-38

35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.  36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.  37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.  38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."


I. Dunia yang lelah

Di dalam pelayanan-Nya berkeliling ke semua wilayah di Galilea, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan Yesus menjumpai keadaan masyarakat yang sama, yaitu masyarakat yang di dalam Matius 9:36 diistilahkan sebagai masyarakat yang lelah dan terlantar. Berarti kondisi ini dalam keadaan yang merata di seluruh penjuru negeri. Entah yang bersangkutan hidup di kota maupun di desa tidak ada bedanya, mereka sama-sama berada dalam kondisi yang lelah dan terlantar.

Kata yang di dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai lelah ini di dalam bahasa Yunani adalah skullo yang secara harafiah artinya adalah melepaskan kulit yang melekat kepada apa saja yang dibungkusnya dengan cara memukul kulit tersebut secara berulang-ulang. Sebagai contoh misalnya melepaskan kulit kayu dari sebatang pohon dengan cara memukulinya secara terus menerus.

Kata tersebut juga digunakan untuk menggambarkan orang yang diganggu atau didera oleh masalah yang berat secara bertubi-tubi. Karena deraan yang terjadi secara berulang-ulang itulah sebabnya kata ini di dalam bahasa Inggris maupun di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai lelah. Sebab memang seseorang yang ditimpa oleh berbagai masalah tanpa henti tentu yang bersangkutan akan dalam keadaan kelelahan.

Itulah keadaan bangsa Israel dua ribu tahun yang lampau. Sebagai bangsa yang dijajah secara terus menerus oleh bangsa-bangsa lain kehidupan mereka dalam keadaan tertindas. Secara ekonomi mereka dalam keadaan tertindas karena pajak yang sangat berat yang harus mereka tanggung. Secara kerohanian mereka harus melihat kenyataan bahwa negeri mereka sekarang dicemari oleh kuil-kuil penyembahan berhala yang didirikan oleh bangsa-bangsa asing, baik bangsa Yunani maupun Romawi. Secara politik mereka merupakan bangsa yang terjajah dan yang tidak memiliki negara yang berdaulat seperti di masa silam.

Semua situasi itulah yang pada akhirnya mendorong orang Yahudi melakukan pemberontakan terhadap penjajah Romawi 30 tahun  sesudah masa pelayanan Yesus, tepatnya pada tahun 66 M yang mengakibatkan pecahnya perang antara bangsa Yahudi dan pemerintah Romawi. Perang yang berkepanjangan ini berakhir dengan penghancuran kota Yerusalem dan bait suci yang ada di dalamnya oleh tentara Romawi di bawah pimpinan Jendral Titus pada tahun 70 M.

Bila kita membandingkan kondisi itu dengan situasi dunia di masa kini, nampak bahwa kondisi yang sama pulalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat dunia, dalam bentuk yang tidak jauh berbeda. Kondisi yang sama, sebab sulit untuk dipungkiri bahwa di masa kini masyarakat sedang menghadapi terpaan badai persoalan yang datang silih berganti. Bentuk yang tidak terlalu berbeda, sebab sebagaimana di masa itu masyarakat mengalami tekanan ekonomi, krisis keagamaan dan penjajahan secara politis, maka di masa sekarang juga demikian. Krisis ekonomi, krisis moralitas dan krisis keamaman merajalela dimana-mana.


II. Dunia yang terlantar

Kondisi yang kedua yang dialami oleh masyarakat Yahudi pada zaman Yesus berada di muka bumi dua ribu tahun yang lalu diistilahkan sebagai berada di dalam keadaan terlantar. Kata terlantar ini dalam bahasa Yunani adalah rhipto dan secara harafiah berarti dalam keadaan terbengkalai serta tercerai berai. Sama seperti domba yang dibiarkan tak terpelihara sehingga berada di dalam keadaan tercerai berai.

Terbengkalai sehingga mereka tidak tahu kemana mereka harus mencari pertolongan. Tercerai berai karena dalam keadaan panik setiap orang menempuh jalannya masing-masing. Itulah keadaan masyarakat yang terlantar. Situasi itulah yang dialami oleh masyarakat Yahudi dua ribu tahun yang lampau. Di tengah-tengah badai persoalan yang datang secara bertubi-tubi mereka tidak tahu kemana harus mencari pertolongan sehingga mereka di dalam keadaan tercerai berai.

Situasi yang seperti itu pulalah yang dihadapi masyarakat dunia saat sekarang. Berbagai badai tersebut antara lain adalah krisis ekonomi yang bersifat multi dimensional, baik oleh karena masalah energi, lingkungan hidup maupun kemacetan ekonomi sendiri. Krisis moralitas karena manusia meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala modern, yaitu pola pikirnya sendiri. Bagi manusia dirinya sendiri dan pikirannya sendirilah yang menjadi tuhan. Keadaan ini ditambah lagi dengan krisis keamanan oleh karena berbagai bencana alam maupun semakin meluasnya terorisme.

Itulah situasi dunia yang sedang terlantar. Sehingga kita tidak perlu merasa heran apabila tingkat stress penduduk dunia bukan semakin berkurang tetapi sebaliknya dari hari ke hari semakin bertambah tinggi. Akibatnya tindakan-tindakan manusia juga semakin tidak terkendali. Beberapa waktu yang lalu seorang kenalan saya yang adalah perwira kepolisian berkata demikian kepada saya: “Dahulu bila ada pencopet tertangkap basah oleh penduduk, kami pihak kepolisian akan diberitahu sesudah si copet dalam keadaan babak belur karena dipukuli masa. Tetapi sekarang, kami baru diberitahu kalau si copet sudah meninggal karena dikeroyok rama-ramai oleh masa sampai mati.” Memang benar, itulah keadaan dunia yang lelah dan terlantar.


III. Dunia yang tidak bergembala

Lebih jauh lagi Matius bukan hanya menjelaskan keadaan masyarakat pada masa itu. Ia juga menjelaskan mengapa masyarakat di dalam keadaan yang sedemikian. Untuk itu di dalam Matius 9:36 ia menulis sedemikian: “mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.”

Dengan menggambarkan keadaan masyarakat seperti domba yang lelah karena didera oleh berbagai masalah dan domba yang terlantar atau terbengkalai dan tercerai berai Matius menjelaskan penyebab dari keadaan tersebut. Alasan yang ia kemukakan adalah karena mereka seperti domba yang tidak bergembala.

Kata ini mengandung pemahaman bisa jadi sesungguhnya domba-domba tersebut memiliki gembala, tetapi para gembala itu tidak memenuhi tanggungjawabnya sebagai para gembala, sehingga akibatnya domba-domba tersebut seperti tidak tergembalakan. Dengan berkata demikian Matius ingin menjelaskan bahwa krisis yang terbesar yang sedang dihadapi oleh orang Israel pada masa itu adalah krisis kepemimpinan. Para pemimpin tidak menjalankan kewajibannya, sehingga akibatnya masyarakat yang diumpamakan seperti domba tersebut dalam keadaan tanpa pengayoman.

Memang krisis terbesar yang dihadapi manusia di dunia saat ini adalah krisis kepemimpinan. Krisis ini terjadi di setiap lingkup kehidupan masyarakat. Baik di dalam lingkup keluarga, organisasi kemasyarakatan, perusahaan, di dalam pemerintahan di berbagai bangsa di dunia, bahkan termasuk di dalam gereja. Paling sederhana dapat kita lihat di dalam kehidupan keluarga. Tak sedikit keluarga yang berada di dalam keadaan berantakan karena kepala rumah tangga yang tidak menjalankan fungsinya.

Hal ini mengajar kita tentang pentingnya peranan gereja untuk membangun kehidupan kepemimpinan berdasarkan tata nilai yang Alkitabiah. Kepemimpinan yang bertanggungjawab dan bersikap mengayomi seperti gembala yang rela berkorban merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Itu sebabnya dalam situasi seperti inilah keteladanan Yesus semakin terasa relevan. Sebab sebagai Gembala yang Baik Ia telah membuktikan kasih-Nya melalui pengorbanan-Nya. Ialah Gembala yang Baik yang bersikap penuh tanggungjawab terhadap umat-Nya, rela menyerahkan nyawa untuk kawanan domba-Nya. Dengan kasih-Nya Ia menyelamatkan mereka dan menjadikan hidup mereka penuh dengan makna.
Comments
Search
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System

GKPB.NET Comment System"

 
Latest Message: 4 days, 23 hours ago
  • bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
  • Lorna : halo semua
  • Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
  • cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
  • cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
  • cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
  • Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
  • Riona : hallo, salam kenal semua
  • Riona : hallo, salam kenal semua..
  • hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
  • hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
  • julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
  • Toni HW : hallo, world...
  • micro : salam kenal, Gbu all
  • modalcoin : Salam kenal semua :-)
  • Johan : hello all
  • tolib : apa???
  • tolib : hai... ada yg lg
  • tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
  • Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
  • theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
  • martha prata : gbu too Tolib!
  • tolib : happy day GBU ALL
  • tolib : happy day... GBU ALL !!!
  • tolib : happy day,...

Only registered users are allowed to post