| Kualitas moral seorang pemimpin yang dapat diandalkan |
|
|
|
| Articles | ||||||||
| Written by Thomas E. Rahadja | ||||||||
| Sunday, 20 June 2010 22:56 | ||||||||
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja Alkisah di suatu kerajaan hiduplah seorang raja yang haus pujian. Suatu hari kelemahan sang raja ini dimanfaatkan oleh seorang penjahit yang memiliki akal bulus. Sang penjahit berkata kepada sang raja: “Tuanku raja, saya telah menjahit sehelai jubah yang sangat istimewa bagi tuanku. Sedemikian indahnya jubah ini sehingga hanya dapat dilihat oleh orang yang bijak, sedangkan orang yang bebal tidak akan mampu melihatnya.” Sesudah berkata demikian si penjahit berpura-pura menunjukkan jubah tersebut kepada sang raja. Ia hanya berpura-pura sebab sebenarnya jubah itu tidak ada. Sang raja dan semua pejabat tinggi negara yang di dalam istana tidak melihat tangan si penjahit memegang apapun juga. Namun karena tidak ingin dianggap sebagai orang yang bebal sang raja berpura-pura melihat bahwa tangan si penjahit sedang memegang sehelai jubah. Bahkan ia pun berseru: “Wah, alangkah indahnya jubah ini!” Semua pejabat istanapun mengangguk-anggukkan kepala membenarkan perkataan sang raja, walaupun sebenarnya mereka juga tidak melihat apa-apa di tangan sang penjahit. Sesudah memberikan upah yang sangat besar kepada si penjahit, sang raja pun berlagak mengenakan jubah tersebut dan kemudian berjalan di sekitar istananya dengan mengenakan pakaian dalam saja. Karena tidak ingin dianggap sebagai orang bebal maka semua pejabat tinggi dan pegawai istana berpura-pura melihat jubah tersebut dan memuji-muji keindahannya. Mereka berkata: “Tuanku raja, keindahan jubah ini memang sangat sesuai dengan kegagahan tuanku raja.” Puja puji para pegawai istana ini membuat sang raja berkeinginan untuk melakukan pawai mengelilingi ibu kota kerajaan. Pada saat parade sedang berlangsung dengan sang raja yang berlagak mengenakan jubah padahal sesungguhnya hanya mengenakan pakaian dalam tersebut berjalan di barisan depan, semua penduduk kota berdiri di pinggir jalan sambil bersorak-sorai memuji-muji keindahan jubah sang raja yang tidak mereka lihat. Semua orang sedang berbohong karena takut mengutarakan kebenaran. Tak seorang pun yang bersedia menyampaikan apa yang sebenarnya ia lihat sebab tidak ingin diolok-olok oleh orang lain sebagai orang yang bebal. Pawai pun berjalan dengan lancar. Sang raja dengan bangga memamerkan jubahnya yang baru, walaupun di dalam hati sebenarnya ia bertanya-tanya mengapa ia tidak dapat melihat jubah tersebut. Demikian juga halnya dengan seluruh penduduk kota. Bahkan saat sang raja sedang melewati sebuah jalan dan seorang anak kecil yang di dalam kepolosannya berteriak: “Hai, sang raja berjalan tanpa mengenakan pakaian,” segera orang-orang di sekitarnya menghardik anak kecil yang berkata dengan jujur tersebut. Walaupun di dalam hati kecilnya sang raja menduga teriakan anak itu memang benar namun sorak sorai rakyat yang memuji-muji keindahan jubahnya membuat ia takut untuk mengakui kenyataan yang sesungguhnya. Sambil berpura-pura tidak mendengar teriakan si anak kecil sang raja pun bersiteguh dengan kebanggaannya dan meneruskan perjalannya berpawai mengelilingi ibu kota. Memang diperlukan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran sebagaimana apa adanya. Tidak jarang orang lebih memilih untuk mengikuti arus walaupun itu bertentangan dengan realita kebenaran yang ia ketahui. Sebagai akibat, kebenaran pun dikompromikan dan justru yang benar disalahkan. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab kemerosotan kepemimpinan. Sebab kepemimpinan memerlukan keberanian untuk menyatakan kebenaran, bahkan kalaupun itu harus dilakukan dengan melawan arus. Tanpa keteguhan hati dalam menentang arus pendapat umum yang berlawanan dengan suara nurani seorang pemimpin hanya akan sekedar menjadi pemimpin boneka. Kepemimpinan yang bermoralitas lemah seperti itulah yang menguasai Israel pada zaman Yesus. Herodes sebagai raja wilayah Galilea pada zaman itu hidup berkompromi dalam dosa dan membuat dirinya tak dapat berdiri teguh memegang prinsip kebenaran. Justru sebaliknya seperti yang dicatat di dalam Matius 14:1-12 ia berupaya untuk membungkam kebenaran dan menuruti permintaan istrinya untuk membunuh Yohanes Pembaptis. Matius 14:1-12 1 Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. 2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." 3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" 5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." 9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. I. Kelicikan Herodias Berita popularitas dan mujizat-mujizat yang dibuat Yesus sampai ke telinga Herodes Antipas, raja wilayah Galilea. Berita yang sampai kepadanya bersifat simpang siur. Seperti yang dicatat di dalam Markus 6:14-16 sebagian orang mengatakan bahwa Yesus adalah Elia yang datang ke dunia. Sebagian lagi berkata bahwa Yesus adalah seorang dari para nabi. Tetapi Herodes mempercayai bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang telah ia bunuh dan yang telah bangkit kembali dari kematiannya. Sebelum membunuh Yohanes Pembaptis, Herodes terlebih dahulu memenjarakan yang bersangkutan di dalam benteng Machaerus yang terletak dekat Laut Mati. Tindakan ini ia lakukan karena Yohanes menegor perbuatannya dalam mengambil Herodias istri saudara tirinya yang bernama Herodes Filipus dan yang juga bergelar Herodes Kedua atau Herodes Boethus. Bukan saja Herodias adalah istri dari saudara tirinya, ia juga adalah kemenakan perempuan dari Herodes Antipas maupun Herodes Filipus. Memperhatikan catatan Josephus, sejarahwan Yahudi yang hidup di abad pertama tentang Herodias dan hasutannya terhadap Salome putri dari perkawinannya dengan Herodes Filipus kita dapat melihat kelicikan dari Herodias. Kekuasaan Herodes Antipas yang lebih besar dibandingkan Herodes Filipus nampaknya membuat Herodias rela meninggalkan suaminya dan menikah dengan Herodes Antipas. Sebagaimana yang dicatat di dalam Matius 14:6-8, kebenciannya terhadap Yohanes Pembaptis mendorong dirinya untuk menghasut putrinya agar meminta kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah talam kepada Herodes Antipas sebagai bayaran atas tarian putrinya di depan Herodes dan para tamunya. II. Kelemahan Herodes Ketidak sanggupan Herodes Antipas dalam menghadapi kelicikan Herodias ini menunjukkan kelemahan yang bersangkutan. Memang kelemahan Herodes Antipas ini nampak setidaknya dari tiga kelemahan moral. Kelemahan yang pertama adalah ketidak mampuannya untuk mengendalikan keinginannya mengambil Herodias menjadi istrinya, walaupun hal tersebut bertentangan dengan hukum Taurat dan juga mengakibatkan ia harus menceraikan Phasaelis, istrinya yang pertama yang adalah putri Raja Aretas IV dari kerajaan Nabatea. Kelemahan yang kedua adalah ketidak mampuannya untuk mengendalikan diri saat putri tirinya, Salome menari di depan dirinya dan para tamunya saat ia melaksanakan pesta ulang tahun. Di dalam Matius 14:6-7 dikatakan demikian “Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.” Dari apa yang dituliskan di sana kita dapat memperkirakan bahwa pesta dan tarian yang dibawakan oleh putri tirinya ini bersifat sangat amoral dan hal itu membuat raja Herodes Antipas bersumpah untuk memberikan apa saja yang diminta oleh Salome. Memang nama Salome ini tidak disebut di dalam Matius 14 maupun Markus 6 yang mencatat peristiwa tersebut namun Josephus, sang sejarahwan Yahudi menuliskan dengan cukup rinci nama dan latar belakang yang bersangkutan. Kelemahan yang ketiga adalah ketidak sanggupannya untuk menolak permintaan Herodias melalui Salome agar Herodes Antipas memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Di satu sisi ia sendiri memang ingin membunuh Yohanes Pembaptis karena Yohanes telah menegor dirinya sehubungan perkawinannya dengan Herodias. Tetapi seperti yang dicatat di dalam Matius 14:5 ia takut untuk melaksanakan niat hatinya ini karena orang banyak memandang Yohanes sebagai nabi. Di sisi yang lain seperti yang ditulis di dalam Matius 14:9, ia merasa sedih karena harus memenuhi sumpahnya kepada putri tirinya yang atas bujukan ibunya telah meminta kepala Yohanes Pembaptis. Hal ini menunjukkan bahwa sesunggungnya di hati kecilnya ia mengetahui Yohanes Pembaptis adalah orang yang benar yang tidak selayaknya dibunuh. Namun kelemahan moral dalam dirinya tidak memampukan Herodes Antipas untuk bersikap tegas yaitu lebih menaati kebenaran dibandingkan desakan keadaan. Inilah yang membuat Matius menulis di dalam Matius 9:36 bahwa keadaan rakyat di masa itu seperti domba yang tidak bergembala. Artinya rakyat pada masa itu mengalami krisis kepemimpinan, karena sang pemimpin atau gembala tidak menjalankan fungsinya sebagaimana seharusnya. III. Keberanian Yohanes Pembaptis Apabila Herodes Antipas hidup di dalam kelemahan moral sehingga dengan mudah dipengaruhi dan dimanfaatkan oleh Herodias untuk mengorbankan kebenaran, tidak demikian halnya dengan Yohanes Pembaptis. Tanpa ragu-ragu ia menentang penyelewengan yang dibuat oleh raja Herodes. Sementara para imam dan orang Farisi yang adalah para pemuka agama Yahudi tak berani menyuarakan kebenaran, seperti yang ditulis di dalam Matius 14:4 tanpa rasa takut Yohanes Pembaptis menegor sang penguasa. Kata menegor yang digunakan di sana di dalam bahasa Yunani adalah lego, dan kata tersebut ditulis dalam bentuk kata kerja imperfect tense, yang artinya perbuatan di masa lampau yang dilakukan secara terus menerus. Sehingga kalimat di dalam Matius 14:4 tersebut seharusnya diterjemahkan sebagai berikut: “Karena Yohanes pernah menegornya secara berulang-ulang.” Hal ini menunjukkan keberanian Yohanes dan ketegasan Yohanes di dalam menyuarakan kebenaran dengan tidak jemu-jemu. Kualitas kepemimpinan yang sedemikianlah yang sebenarnya diperlukan oleh masyarakat dan umat Tuhan. Pemimpin yang memiliki ketegasan dan berdiri teguh dalam kebenaran. Pemimpin seperti Yohanes Pembaptis yang berpegang kepada kebenaran dengan setia sampai akhir itulah yang patut diteladani. Kehidupan yang seperti itulah yang patut disebut sebagai kehidupan yang bermakna, meninggalkan nama harum dan yang menggores lembaran sejarah dengan tinta emas yang tak terhapuskan oleh debu zaman.
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System
GKPB.NET Comment System"
|
Latest Message: 1 week ago
- bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
- Lorna : halo semua
- Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
- cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
- cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
- cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
- Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
- Riona : hallo, salam kenal semua
- Riona : hallo, salam kenal semua..
- hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
- hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
- julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
- Toni HW : hallo, world...
- micro : salam kenal, Gbu all
- modalcoin : Salam kenal semua :-)
- Johan : hello all
- tolib : apa???
- tolib : hai... ada yg lg
- tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
- Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
- theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
- martha prata : gbu too Tolib!
- tolib : happy day GBU ALL
- tolib : happy day... GBU ALL !!!
- tolib : happy day,...
Only registered users are allowed to post








