| Pentingnya hati yang memandang ke arah yang tepat |
|
|
|
| Articles | ||||||||
| Written by Thomas E. Rahadja | ||||||||
| Friday, 25 June 2010 23:00 | ||||||||
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja Tepat pada hari peringatan kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli 1952, Florence Chadwick seorang perenang jarak jauh yang handal berusaha untuk menjadi perempuan pertama yang mampu berenang menyeberangi selat yang memisahkan pulau Catalina dengan pantai California. Selat yang selebar tiga puluh kilometer itu dikenal sebagai selat yang dihuni oleh ikan hiu. Oleh karena itu untuk mencegah bahaya serangan ikan hiu, sementara berenang Florence yang saat itu berusia 34 tahun dikawal oleh beberapa kapal kecil. Suhu air selat Catalina hari itu sangat dingin. Kabut yang sangat tebal menyelimuti seluruh wilayah tersebut sehingga bahkan Florence tidak dapat melihat perahu yang menyertainya. Beberapa kali ikan-ikan hiu mencoba mendekati Florence sehingga senapan harus diletuskan untuk mengusir ikan-ikan tersebut. Sesudah berenang selama lima belas jam di tengah kabut yang sangat tebal Florence mulai merasa ragu-ragu terhadap kemampuannya untuk mencapai pantai. Ia memberitahu ibunya yang berada di salah satu perahu yang mengikutinya bahwa ia tidak akan mampu menyelesaikan jarak yang harus ditempuh. Pelatihnya pun mencoba membesarkan hatinya, sebab mereka sudah dekat dengan garis pantai. Setelah berenang satu jam lagi, akhirnya Florence menyerah. Ia meminta agar dikeluarkan dari air. Ketika ia sudah berada di dalam perahu baru ia mengetahui bahwa sesungguhnya ia tinggal satu kilometer lagi dari titik tujuan. Menghadapi kenyataan tersebut Florence Chadwick berkata: “Saya tidak mencari-cari alasan, tetapi kalau saja saya dapat melihat pantai saya pasti akan mampu mencapainya.” Rasa frustrasi dalam dirinya yang membuat ia berhenti sebelum mencapai pantai bukan disebabkan oleh dinginnya suhu air atau rasa kelelahan, tetapi karena kabut tebal yang menghalangi dia untuk melihat tujuan yang harus ia capai. Dua bulan kemudian Florence Chadwick kembali mencoba menaklukkan selat Catalina dengan jalur renang yang sama seperti yang sebelumnya. Kali ini pun kabut yang tebal menyelimuti wilayah tersebut, namun Florence Chadwick berhasil mencapai pantai California dan memecahkan rekor kecepatan menyeberangi selat tersebut dua jam lebih cepat dibandingkan perenang laki-laki yang memegang rekor sebelumnya. Kali ini ia mampu menaklukkan selat tersebut dan kabut yang menyelimutinya karena sementara berenang ia terus membayangkan seakan-akan ia melihat garis pantai yang menjadi tujuannya. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya kemampuan untuk melihat ke arah yang tepat saat kita sedang berjuang. Tantangan yang sama, namun bila hati kita melihat ke arah yang berbeda akan mengakibatkan hasil yang tidak sama. Bila sementara berjuang hati kita hanya melihat kepada kabut kita akan gagal menyelesaikan perjuangan. Sebaliknya bila di saat kita menghadapi kabut yang sama namun bila hati kita tertuju kepada sasaran yang harus kita raih, kita akan berhasil menaklukkan kabut penghalang dan mencapai tujuan yang seharusnya. Prinsip inilah yang dapat kita lihat di dalam peristiwa mujizat Yesus berjalan di atas air sebagaimana yang dicatat di dalam Matius 14:22-33. Di dalam peristiwa tersebut Petrus ikut berjalan di atas air seperti yang dilakukan oleh Yesus. Selama matanya tertuju ke arah yang tepat ia tetap berjalan di atas air, tetapi begitu matanya beralih ke arah yang salah ia pun segera tenggelam. Matius 14:22-33 22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. 23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. 24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. 25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. 26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. 27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" 28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." 29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. 30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" 31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" 32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. 33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." I. Ketaatan kepada firman Tuhan yang mendatangkan mujizat Bagi para murid Yesus hari itu merupakan hari yang sukar untuk dilupakan. Dalam satu hari itu mereka menghadapi dua kejutan yang melampaui nalar mereka. Kejutan yang pertama yaitu saat mereka melihat bagaimana Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak yang datang mendengarkan Dia mengajar di wilayah Timur danau Galilea. Kejutan ini bersifat mengagumkan sebab makanan untuk orang sebanyak itu hanya berasal dari lima roti dan dua ekor ikan saja. Sesudah Yesus mengucap syukur dan kemudian memecah-mecahkan roti dan ikan tersebut, entah bagaimana terjadinya, roti dan ikan itu tidak kunjung habis sehingga ribuan orang tersebut makan sampai kenyang bahkan masih tersisa dua belas bakul penuh. Kejutan yang kedua adalah saat mereka melihat sosok bayangan yang berjalan di atas air mendatangi mereka yang sedang berada di dalam perahu di tengah danau Galilea. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul tiga tengah malam sedangkan perahu yang mereka tumpangi sedang menghadapi gelombang oleh angin sakal. Sudah beberapa jam mereka berjuang keras untuk menembus angin sakal yang menghadang perjalanan mereka untuk kembali ke daerah Kapernaum sesuai dengan perintah Yesus kepada mereka. Kejutan ini bersifat menakutkan, sebab di dalam nalar mereka adalah tidak mungkin bila sosok bayangan yang sedang berjalan itu adalah sosok seorang manusia. Tanpa harus terlebih dahulu mengenyam pelajaran fisika di sekolah menengah pun para nelayan sederhana yang hidup dua ribu tahun yang lampau ini juga mengerti bahwa tidak ada manusia yang dapat berjalan di atas air. Sehingga dugaan mereka sosok sedang berjalan di atas air itu pastilah sesosok hantu. Yang membuat mereka semakin ketakutan adalah hantu itu sedang berjalan mendatangi mereka. Tak heran bila mereka berteriak-teriak karena takut. Di saat seperti itu mereka mendengar sosok bayangan itu berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Mereka mengenali itu adalah suara Yesus guru mereka. Sebagaimana yang dicatat Matius 14:28-29, Petrus salah seorang murid Yesus yang bersifat impulsif, yaitu suka bereaksi dengan cepat sebelum sempat berpikir panjang, berseru menjawab Yesus sedemikian:"Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Ketaatan Petrus kepada firman atau perintah Yesus yang berbunyi “Datanglah!” membuat ia mampu berjalan di atas air! Dua faktor yang menentukan mujizat yang dialami oleh Petrus, yaitu firman Tuhan dan ketaatan kepada firman tersebut. Bila Yesus tidak berfirman menyuruh Petrus untuk datang kepada-Nya berjalan di atas air, dan ia melangkah keluar dari dalam perahu dapat dipastikan ia akan tenggelam. Demikian juga bila Yesus berfirman namun ia tidak menaatinya dengan melangkah keluar dari dalam perahu, ia tidak akan pernah berjalan di atas air. Ketaatan kepada firman Tuhan itulah yang mengakibatkan dirinya mengalami mujizat besar di tengah malam tersebut. II. Arah pandangan yang menenggelamkan kehidupan Namun karena Petrus adalah seorang pribadi yang impulsif, sesudah beberapa saat kemudian ia mulai berpikir. Terlebih lagi ketika ia mulai merasakan tiupan angin maka hatinya pun dipenuhi dengan ketakutan. Sebagai akibat sebagaimana yang dicatat di dalam Matius 14:30 maka Petrus pun mulai tenggelam. Mujizat yang ia alami berhenti bekerja dan ia tenggelam ke dalam air sesuai dengan yang ia takutkan. Arah pandangan hatinya yang semula tertuju kepada apa yang Yesus firmankan dan sekarang beralih kepada besarnya angin serta tingginya gelombang membuat imannya memudar dan sebagai akibat rasa takut mencengkeram dirinya. Rasa takut yang berjalan seiring dengan memudarnya iman itulah yang menenggelamkan dirinya. Rasa bimbang yang seiring dengan arah pandangan hati yang salah itulah yang mengakibatkan mujizat tidak lagi ia alami. Pengalaman Petrus ini bukan berarti bahwa seorang pengikut Kristus tidak perlu menggunakan nalarnya. Tentu adalah seharusnya kita menggunakan nalar yang Tuhan berikan kepada kita. Hanya saja kita harus menggunakannya di saat yang tepat dengan cara yang tepat. Bila kita sedang mengalami mujizat Tuhan dan kita gunakan nalar kita untuk meragukan mujizat tersebut karena lebih memperhatikan besarnya tantangan kehidupan, akibatnya iman kita akan memudar dan tantangan kehidupan segera menenggelamkan diri kita. III. Arah pandangan yang mengakibatkan mujizat yang berkesinambungan Di dalam Matius 14:30 dicatat bahwa di titik yang kritis itu Petrus masih sempat berseru: "Tuhan, tolonglah aku!" Suatu seruan yang singkat namun menyelamatkan dirinya. Sebab segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia sehingga Petrus urung tenggelam. Lebih lanjut di dalam Matius 14:31 Yesus berkata kepada Petrus: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Dengan berkata demikian Yesus mengajar Petrus tentang pentingnya percaya atau iman dan dampak dari kebimbangan. Selama Petrus memandang Yesus karena ia berjalan mendatangi Yesus maka imannya akan tetap teguh dan ia akan tetap berjalan di atas air. Tetapi begitu matanya dialihkan dari Yesus kepada gelombang air danau Galiela karena ia lebih terpengaruh oleh tiupan angin sakal yang dirasakannya, segera rasa bimbang menggantikan iman dan ia tidak lagi dapat berjalan di atas air. Apa yang dialami oleh para murid Yesus ini menyadarkan mereka bahwa sesungguhnya Yesus yang adalah guru mereka bukan sekedar manusia biasa yang diurapi Tuhan. Saat itu mereka menyadari bahwa yang berdiri di hadapan mereka adalah pribadi Tuhan sendiri yang penuh dengan kuasa. Itu sebabnya sebagaimana yang dicatat di dalam Matius 14:33 para murid-Nya pun menyembah Dia sambil berkata: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Peristiwa ini menegaskan pentingnya hati yang tetap percaya bahwa Yesus adalah Tuhan walaupun kita sedang menghadapi badai kehidupan. Dengan demikian di dalam segala situasi kita akan tetap lebih mempercayai firman-Nya dibandingkan besarnya tantangan yang sedang menerpa kehidupan kita. Arah pandangan yang tepat, yaitu percaya bahwa Yesus adalah Tuhan ini akan mengakibatkan mujizat yang kita alami tetap berkesinambungan. Pandangan iman inilah yang menyanggupkan kita untuk tetap berjalan di atas segala ketidakmungkinan dan mengalami mujizat demi mujizat-Nya di sepanjang perjalanan kehidupan kita.
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System
GKPB.NET Comment System"
|
Latest Message: 4 days, 23 hours ago
- bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
- Lorna : halo semua
- Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
- cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
- cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
- cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
- Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
- Riona : hallo, salam kenal semua
- Riona : hallo, salam kenal semua..
- hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
- hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
- julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
- Toni HW : hallo, world...
- micro : salam kenal, Gbu all
- modalcoin : Salam kenal semua :-)
- Johan : hello all
- tolib : apa???
- tolib : hai... ada yg lg
- tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
- Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
- theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
- martha prata : gbu too Tolib!
- tolib : happy day GBU ALL
- tolib : happy day... GBU ALL !!!
- tolib : happy day,...
Only registered users are allowed to post








