Iman yang tahan uji PDF Print E-mail
Articles
Written by Thomas E. Rahadja   
Friday, 02 July 2010 23:02
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja

Suatu malam seorang ibu melihat anaknya yang masih duduk di kelas 5 Sekolah Dasar berlutut di samping tempat tidurnya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Apa yang dilakukan anaknya ini sangat menarik hati sang ibu sebab selama ini anak tersebut tidak pernah berdoa sedemikian seriusnya. Sementara sang anak berdoa, si ibu mendengar ia berulang-ulang berkata dengan suara yang cukup keras: “Tokyo, Tokyo, Tokyo….”

Sesudah anaknya selesai berdoa dan naik ke tempat tidurnya, si ibu pun datang serta duduk di sampingnya. Sambil membelai kepala anaknya si ibu berkata: “Nak, ibu senang sekali karena engkau tadi berdoa dengan sungguh-sungguh. Teruskan perbuatan yang baik itu.” Kemudian si ibu melanjutkan: “Hanya saja, ibu tadi mendengar engkau berulang-ulang berkata, Tokyo, Tokyo, Tokyo. Apakah engkau berdoa bagi penduduk kota Tokyo atau karena hal yang lain?”

Si anak pun menjawab: “Tadi pagi di sekolah saya mengerjakan ujian geografi. Salah satu pertanyaan dalam soal ujian adalah ‘Apakah nama ibu kota Perancis?’ dan saya menjawab ‘Tokyo.’ Sekarang saya berdoa agar nama ibu kota Perancis berubah menjadi Tokyo.”

Tentu doa seperti ini kalaupun dipanjatkan dengan segenap hati dan diulang berapa ribu kali tetap kecil kemungkinannya untuk dikabulkan Tuhan. Namun bukan pula berarti bila kita berdoa dan sepertinya Tuhan berdiam diri maka sebaiknya kita berhenti berdoa. Tidak jarang sikap Tuhan dengan berdiam diri saat mendengar doa kita itu adalah karena Ia sedang menguji iman kita dan ingin memberi pelajaran penting tentang sikap seseorang terhadap orang lain. Hal tersebut dapat kita lihat dari peristiwa mujizat yang dialami oleh seorang perempuan Kanaan sebagaimana yang antara lain dicatat di Matius 15:21-28.

Matius 15:21-28

21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.  22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."  23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."  24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."  25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."  26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."  27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."  28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.


I.      Sikap Yesus

Di dalam perjalanan mengelilingi Galilea kali ini Yesus pergi sampai ke daerah perbatasan Tirus dan Sidon yang terletak di Utara wilayah Galilea, yaitu wilayah Lebanon di masa sekarang. Dari istilah “menyingkir” yang disebut di dalam Matius 15:21 kemungkinan sangat besar bahwa kepergian-Nya ke daerah Tirus dan Sidon yang terletak di luar wilayah Galilea ini Ia lakukan untuk menurunkan suhu pertentangan yang terjadi terhadap diri-Nya di Galilea. Ia perlu menurun suhu pertentangan ini sebab sesuai dengan nubuatan para nabi puncak penentangan terhadap diri-Nya harus terjadi di Yudea yaitu di kota Yerusalem, dan bukan di Galilea.

Tidak heran bila di dalam catatan Markus 7:24 ditulis bahwa Yesus tidak menghendaki orang mengetahui kedatangan-Nya ini. Namun berita tentang kedatangan-Nya tetap tak dapat dirahasiakan. Sebab seorang perempuan Kanaan yang berasal dari wilayah tersebut mengenali-Nya. Hal ini tidak mengherankan sebab di awal masa popularitas-Nya pun seperti yang dicatat di dalam Lukas 6:17 nama Yesus sudah dikenal di daerah Tirus dan Sidon dan orang-orang dari wilayah itu sudah pergi ke Galilea untuk mendengar apa yang Yesus ajarkan dan melihat mujizat yang Ia lakukan.

Perempuan ini datang kepada Yesus sehubungan dengan keadaan anak perempuannya. Di dalam Matius 15:22 dicatat: Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."  Perempuan ini menyapa Yesus dengan sebutan yang menunjukkan bahwa Ia mengakui Yesus sebagai Mesias, itu sebabnya ia menyebut Yesus sebagai Anak Daud, salah satu sebutan bagi Sang Mesias.

Di samping perempuan ini mengungkapkan pemahamannya bahwa Yesus adalah Mesias, ia juga mengungkapkan keadaan anak perempuannya yang menderita karena kerasukan setan. Sebenarnya pengetahuan dan pengakuan perempuan ini bahwa Yesus adalah Mesias sangat mengherankan, sebab yang bersangkutan adalah seorang perempuan Kanaan, berarti bukan orang Yahudi. Apalagi ia tidak hanya menyebut Yesus sebagai Anak Daud, tetapi ia juga menyebut Dia sebagai Tuhan. Berarti ia mengakui bahwa Yesus bukan sekedar seorang manusia yang diurapi Allah untuk menjadi Mesias, tetapi Ia adalah Tuhan yang datang sebagai Sang Mesias. Sementara orang-orang Yahudi di Galilea sendiri menolak ke-Mesiasan Yesus, justru perempuan bukan Yahudi di Tirus dan Sidon ini mengakuinya.

Namun mendengar permohonan perempuan ini, di dalam Matius 15:23 dicatat “Yesus sama sekali tidak menjawabnya.” Artinya Yesus sama sekali tidak menghiraukan keberadaan perempuan ini. Jangankan menjawab permohonannya, memperhatikan keberadaannya pun tidak.

Apabila kita memperhatikan apa yang telah Yesus lakukan bagi perempuan Samaria di kota Sikhar sebagaimana yang dicatat di dalam Yohanes 4: 3-30, kita dapat memastikan bila Yesus berdiam diri itu bukan karena Ia memandang rendah seorang perempuan. Apabila kita memperhatikan apa yang telah Yesus lakukan kepada orang bukan Yahudi seperti orang yang kerasukan setan di Gerasa sebagaimana yang dicatat di dalam Markus 5:1-13 dan perempuan Samaria tadi, kita dapat memastikan bahwa bila Yesus sama sekali tidak memperhatikan permohonan pertolongan dari  perempuan ini hal tersebut bukan karena Ia memandang rendah orang bukan Yahudi.

Yesus berdiam diri untuk menguji apa yang menjadi sikap para murid-Nya. Sesudah Ia mengajar mereka tentang kesalehan yang sejati, yaitu kesalehan yang tidak tergantung kepada peraturan-peraturan lahiriah yang bersumber dari adat istiadat manusia seperti yang ditulis di dalam Matius 15:10-20 dan Markus 7:14-23, sekarang Ia ingin mengetahui sejauh mana para murid-Nya telah menghayati pelajaran tersebut.


II.      Sikap para murid Yesus

Di dalam Matius 15:23 dicatat sedemikian: Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Sebaliknya dari mendesak Yesus agar memperhatikan permohonan perempuan tersebut, para murid-Nya justru mendesak agar Dia mengabaikannya. Sebaliknya dari meminta agar Yesus menolong perempuan ini, para murid-Nya justru meminta agar Dia mengusirnya. Sebaliknya dari hati yang dipenuhi dengan belas kasihan karena teriakan permohonan perempuan ini, justru para murid Yesus merasa bahwa teriakan permohonan tersebut mengganggu diri mereka.

Dapat diduga bawa sikap para murid Yesus ini adalah karena yang datang memohon pertolongan adalah seorang perempuan bukan Yahudi. Di dalam Markus 7:26 dijelaskan bahwa perempuan yang datang memohon pertolongan ini secara kewarganegaraan adalah orang Siria, itu sebabnya ia disebut sebagai perempuan Siro Fenisia. Sedangkan secara budaya dan bahasa Ia disebut sebagai orang Yunani, artinya bukan bangsa Yahudi. Sedangkan secara etnis Matius 15:22 menyebut bahwa yang bersangkutan adalah perempuan Kanaan. Dengan mengungkapkan latar belakang kewarganegaraan, budaya dan etnis yang bersangkutan Matius dan Markus ingin menunjukkan betapa perempuan ini adalah orang yang sama sekali bukan berlatar belakang Yahudi. Dengan demikian mereka juga memberikan penjelasan mengapa para murid Yesus bersikap tidak bersahabat terhadap perempuan ini.

Hal ini menunjukkan bahwa sikap ethnosentris, atau sikap yang memandang etnisnya sendiri yaitu etnis Yahudi lebih unggul dari etnis yang lain masih menguasai hati para murid Yesus. Dengan kata lain, pelajaran yang Yesus sampaikan sebelumnya tentang kesalehan yang sejati belum mereka hayati sebagaimana seharusnya.


III.      Sikap perempuan Siro Fenisia

Menghadapi sikap diam dari Yesus, perempuan ini tidak berputus asa. Sebagaimana yang dikatakan oleh para murid Yesus di dalam Matius 15:23, ia tetap mengikuti Yesus sambil berteriak-teriak memohon pertolongan. Di dalam Matius 15:24-25 kita dengan lebih jelas dapat melihat kegigihan perempuan ini. Di sana dicatat Yesus berkata kepadanya: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."  Artinya penolakan Yesus terhadap dirinya tidak membuat ia berputus asa. Ia tetap memohon agar Yesus menolong dirinya dengan menyembuhkan anaknya. Artinya sikap pertama yang menonjol dalam diri perempuan ini adalah kegigihannya.

Bila dengan berdiam diri Yesus ingin menguji hati para murid-Nya, sekarang dengan berbicara dan menolak perempuan ini Yesus ingin menguji hati yang bersangkutan. Sebab bila Yesus hanya memperhatikan umat Israel, maka tentu Ia tidak akan datang ke Samaria maupun Gerasa untuk melayani orang-orang bukan Yahudi di sana.

Melihat kegigihan hati yang bersangkutan di dalam Matius 15:26 Yesus berkata kepada perempuan ini: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kalimat ini menunjukkan suatu penolakan yang sangat keras, sebab orang Yahudi memang mempersamakan bangsa bukan Yahudi sebagai anjing. Tetapi dengan rendah hati perempuan ini di dalam Matius 15:27 menjawab: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."

Perempuan ini membenarkan perkataan Yesus dan mengakui bahwa dirinya adalah seorang yang tidak layak sehingga setara dengan seekor anjing. Ini menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa dari perempuan ini. Kerendahan hati yang bersumber dari imannya bahwa Yesus pasti mau dan mampu menolong anaknya. Inilah sikap kedua yang menonjol dalam diri perempuan ini, yaitu kerendahan hatinya. Bukan itu saja, dalam kecerdikannya ia menggunakan sebutan anjing itu untuk tetap memohon agar Yesus menolong anaknya.

Kegigihan dan kerendahan hati perempuan ini yang bersumber dari imannya tidak sia-sia. Di dalam Matius 15:28 dicatat sedemikian: Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Sekarang Yesus menyebut perempuan ini sebagai “ibu,” atau gyne dalam bahasa Yunani, suatu sebutan penghargaan terhadap seorang perempuan. Artinya Tuhan menghargai orang yang berdoa dengan iman dan yang mengekspresikannya dalam kegigihan dan kerendahan hati. Doa yang semacam itu membuka pintu jawaban Tuhan. Ya, doa yang lahir dari iman ini tidak sia-sia, tetapi membuka pintu anugerah Tuhan bagi dirinya.
Comments
Search
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System

GKPB.NET Comment System"

 
Latest Message: 4 days, 23 hours ago
  • bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
  • Lorna : halo semua
  • Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
  • cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
  • cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
  • cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
  • Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
  • Riona : hallo, salam kenal semua
  • Riona : hallo, salam kenal semua..
  • hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
  • hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
  • julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
  • Toni HW : hallo, world...
  • micro : salam kenal, Gbu all
  • modalcoin : Salam kenal semua :-)
  • Johan : hello all
  • tolib : apa???
  • tolib : hai... ada yg lg
  • tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
  • Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
  • theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
  • martha prata : gbu too Tolib!
  • tolib : happy day GBU ALL
  • tolib : happy day... GBU ALL !!!
  • tolib : happy day,...

Only registered users are allowed to post