| Keperdulian, belas kasihan dan kuasa Yesus yang tidak terbatas |
|
|
|
| Articles | ||||||||
| Written by Thomas E. Rahadja | ||||||||
| Sunday, 04 July 2010 23:04 | ||||||||
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja Ketika William Booth, pendiri lembaga Bala Keselamatan meninggal dunia lebih dari seratus lima puluh ribu orang datang untuk melayat jenasahnya. Bahkan ibadah pemakamannya pun yang diselenggarakan pada tanggal 27 Agustus 1912 dihadiri oleh sekitar 40.000 orang. Ketenaran dan pengaruh William Booth telah menarik para bangsawan Inggris untuk ikut datang ke Gedung Olympia London tempat dimana ibadah pemakaman itu diselenggarakan. Sebagian dari mereka datang hanya karena ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk tampil di muka umum sehingga keberadaan mereka diketahui dan dikenal orang. Alkisah di antara para bangsawan yang duduk di barisan depan saat ibadah pemakaman berlangsung terselip seorang perempuan sederhana yang mengenakan pakaian yang usang. Perempuan ini duduk di samping seorang bangsawan perempuan yang mengenakan pakaian yang mewah. Sang nyonya bangsawan inipun bertanya kepada perempuan sederhana yang duduk di sampingnya itu: “Bagaimana engkau dapat mengenal Jendral William Booth?” Perempuan sederhana itu menjawab: “He cared for the likes of us.” Ia bersikap perduli kepada orang-orang yang seperti kami. Memang itulah sifat dari William Booth. Ia melakukan pelayanannya di saat Inggris sedang dalam keadaan terpuruk secara ekonomi dan kehidupan sosial. Revolusi industri yang terjadi di awal abad ke-19 telah mengakibatkan arus urbanisasi dan meningkatnya pengangguran secara tajam di kota-kota besar di negara Inggris. Sebagai akibat kejahatan sosial merajalela di mana-mana. Di dalam situasi yang sangat sukar tersebut William Booth menulis sebuah buku yang diberinya judul “In Darkest England and the Way Out,” Di dalam Masa yang Tergelap dari Inggris dan Jalan Keluarnya. Dalam bukunya tersebut William Booth menulis tentang penghapusan kemiskinan dengan menyediakan tempat tinggal bagi para tunawisma, pelatihan pertanian bagi para penduduk kota yang miskin, tempat penampungan bagi para perempuan yang hamil di luar pernikahan dan bagi para mantan narapidana, bantuan bagi orang-orang miskin dan mereka yang terikat oleh minuman keras. Singkat kata melalui lembaga pelayanan Bala Keselamatan yang ia dirikan William Booth dengan dukungan istrinya yang adalah seorang pengkhotbah ulung, Catherine Booth, melakukan berbagai pelayanan sosial kepada mereka yang miskin dan tertindas. Suatu pelayanan yang masih tetap diteruskan oleh para anggota Bala Keselamatan di berbagai penjuru dunia sampai saat ini. Suatu pelayanan kasih yang meniru jejak Yesus yang memberikan perhatian kepada mereka yang sengsara. Kasih Yesus Sang Mesias kepada orang-orang yang menderita ini antara lain dapat kita lihat di dalam Markus 8:1-9. Kasih tersebut Ia tunjukkan dengan memberikan perhatian kepada kebutuhan rohani orang banyak, tetapi juga dengan memperhatikan kebutuhan jasmaniah mereka. Markus 8:1-9 1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: 2 "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. 3 Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." 4 Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" 5 Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." 6 Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. 7 Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. 8 Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. 9 Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. I. Hati Yesus yang perduli terhadap diri orang lain Apabila di wilayah Galilea orang-orang yang semula mengaku sebagai para pengikut Yesus mulai mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia, tidak demikian halnya dengan orang-orang di luar wilayah Galilea, khususnya di daerah-daerah bangsa bukan Yahudi. Itu sebabnya ketika Yesus meninggalkan daerah Tirus melewati daerah Sidon dan kemudian menuju daerah Dekapolis yang terletak di sisi Timur danau Galilea orang berbondong-bondong datang kepada-Nya. Di dalam Matius 15:29-31 perjalanan tersebut dicatat sebagai berikut: “Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.” Kalimat “mereka memuliakan Allah Israel” di dalam Matius 15:31 ini mengindikasikan bahwa mereka yang datang kepada Yesus ini adalah orang-orang bukan Yahudi, sehingga di sana tidak disebut mereka memuliakan Allah, tetapi secara spesifik disebut Allah Israel. Memang wilayah Dekapolis adalah daerah orang bukan Yahudi, tetapi daerah penduduk yang berbudaya dan berbahasa Yunani. Sehingga kalaupun terdapat orang Yahudi di sana, prosentase jumlah mereka tidaklah besar. Kedatangan orang-orang ini juga mengindikasikan bahwa apa yang terjadi di Galilea tidak mempengaruhi penduduk Dekapolis. Mereka tidak memiliki konsep tentang Mesias seperti yang dipegang oleh bangsa Yahudi yaitu bahwa Mesias adalah manusia biasa yang diurapi Tuhan untuk membebaskan Israel dari penjajahan bangsa asing. Konsep tentang Mesias yang membuat orang Yahudi di Galilea menolak Yesus sebagai Tuhan yang datang sebagai Mesias ini tidak mereka perdulikan. Yang mereka pahami adalah bahwa mereka memiliki persoalan, yaitu berbagai macam penderitaan secara jasmani. Yang mereka ketahui adalah bahwa Yesus mampu menolong orang yang dalam penderitaan. Itu sebabnya mereka datang berbondong-bondong kepada-Nya untuk memperoleh pertolongan. Kedatangan orang-orang ini kemungkinan besar dipicu oleh berita yang disampaikan oleh orang-orang yang menyaksikan mujizat yang Yesus lakukan dengan menyembuhkan orang yang tuli dan gagap sebagaimana yang dicatat di dalam Markus 7:31-37. Setelah mereka melihat berbagai mujizat lain yang Yesus lakukan, mereka tidak segera beranjak pulang, namun terus mengikuti Yesus. Tiga hari kemudian bekal makanan yang mereka bawa dari rumah mulai habis. Di dalam Markus 8:2-3 dicatat melihat keadaan orang banyak tersebut maka Yesus berkata kepada para murid-Nya sedemikian: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Hal ini mengungkapkan bahwa Yesus adalah pribadi yang memikirkan diri orang lain. Walaupun kedatangan orang banyak itu bukan atas undangan-Nya, tetapi karena mereka yang datang sendiri, tetap Ia memikirkan keadaan mereka dengan penuh tanggungjawab. Ia memikirkan apabila Ia menyuruh mereka pulang, pasti mereka akan rebah di jalan karena kelaparan. Hati Yesus adalah hati yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi hati yang memperdulikan diri orang lain. II. Hati Yesus yang penuh belas kasihan Di samping itu hati Yesus adalah hati yang mudah digerakkan dengan belas kasihan oleh penderitaan manusia. Itu sebabnya ketika melihat orang banyak itu dalam keadaan lapar karena tidak memiliki makanan Ia berkata kepada para murid-Nya: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.” Walaupun beberapa waktu sebelumnya Ia pernah mencela orang banyak yang datang kepada-Nya di Kapernaum karena mereka mencari Dia sebab telah memperoleh roti yang Ia bagikan dan makan sampai kenyang, hal tersebut tidak mencegah Yesus untuk tetap merasa berbelas kasihan terhadap orang yang kelaparan. Memang beberapa waktu sebelumnya, yaitu sebelum Ia pergi mengelilingi Galilea dan kemudian menyingkir ke Tirus dan Sidon, di Betsaida Julias yang terletak sedikit ke arah Uatara dari wilayah Dekapolis, Ia telah memberi makan kepada lima ribu laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak. Dengan lima roti dan dua ekor ikan yang Ia pecah-pecahkan Ia memberi makan kepada mereka semua sampai kenyang. Ketika orang banyak itu menyusul Dia sampai ke Kapernaum Yesus mencela mereka sebab mereka mencari Dia karena mengharapkan berkat jasmani namun tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias yang sejati. Belas kasihan Yesus kepada orang banyak yang mengikuti Dia di Dekapolis ini menunjukkan bahwa Ia tidak menyukai motivasi orang yang hanya mengikut Dia karena mencari berkat, akan tetapi Ia tetap berbelas kasihan terhadap orang yang menderita dan memerlukan pertolongan-Nya. Tuhan adalah pribadi yang membenci perbuatan dosa manusia, tetapi Ia mengasihani manusia yang berdosa. III. Kuasa Yesus yang tidak terbatas Kali ini sama seperti yang telah Ia lakukan di Betsaida Julias beberapa waktu sebelumnya, Ia meminta para murid-Nya untuk mengumpulkan roti yang ada pada mereka. Apabila seperti yang ditulis di dalam Markus 8:4 para murid-Nya berpikir bahwa di tempat yang sunyi tersebut tidaklah mungkin untuk membeli roti bagi kumpulan yang sebanyak empat ribu orang tersebut, Yesus melihat adalah mungkin untuk memberi makan kepada orang banyak tersebut dengan apa yang ada pada para murid-Nya. Sebagaimana yang dicatat di dalam Markus 8:5-9, dari tujuh roti dan beberapa ekor ikan yang ada pada para murid-Nya, Yesus pun membuat mujizat sehingga empat ribu orang yang mengikuti Dia di Dekapolis itu makan sampai kenyang. Ia mengucap syukur dan berkat atas makanan yang diserahkan kepada-Nya, memecah-mecahkannya dan Ia menyuruh para murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak tersebut. Bukan saja mereka semua makan kenyang, bahkan masuh tersisa tujuh bakul. Peristiwa ini mengajar kita betapa sikap keperdulian, belas kasihan dan kuasa Yesus adalah tidak terbatas. Ia tidak dapat dibatasi oleh tembok etnis, oleh karena itu sebagaimana Ia bersedia menolong orang Yahudi Dia juga bersedia menolong orang bukan Yahudi. Ia tidak dapat dibatasi oleh keadaan. Walaupun yang ada hanyalah tujuh roti dan beberapa ekor ikan, tetapi keperdulian, belas kasihan dan kuasa Yesus mengakibatkan mujizat-Nya membuat empat ribu orang makan kenyang dan bahkan masih berlebih tujuh bakul. Keperdulian, belas kasihan dan kuasa Yesus yang tak terbatas itulah yang menyelamatkan kita dari dosa, memberikan kehidupan yang baru bagi kita, menjadi dasar bagi kita untuk dapat mengharapkan pertolongan-Nya dan mengubah kehidupan kita dari sia-sia menjadi penuh dengan makna.
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System
GKPB.NET Comment System"
|
Latest Message: 1 week ago
- bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
- Lorna : halo semua
- Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
- cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
- cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
- cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
- Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
- Riona : hallo, salam kenal semua
- Riona : hallo, salam kenal semua..
- hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
- hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
- julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
- Toni HW : hallo, world...
- micro : salam kenal, Gbu all
- modalcoin : Salam kenal semua :-)
- Johan : hello all
- tolib : apa???
- tolib : hai... ada yg lg
- tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
- Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
- theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
- martha prata : gbu too Tolib!
- tolib : happy day GBU ALL
- tolib : happy day... GBU ALL !!!
- tolib : happy day,...
Only registered users are allowed to post








