Kepemimpinan Tingkat Kelima PDF Print E-mail
Articles
Written by Thomas E. Rahadja   
Tuesday, 13 July 2010 23:05
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja

Good to Great merupakan salah satu buku manajemen yang sangat berpengaruh yang terbit pada awal abad ini. Buku yang ditulis oleh Jim Collins ini memaparkan faktor-faktor yang membedakan antara perusahaan-perusahaan yang baik dengan perusahaan-perusahaan yang hebat. Yang dimaksudkan oleh Jim Collins dengan perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang paling terkemuka dibandingkan perusahaan lain di bidang yang sama karena telah membuktikan bahwa selama lima belas tahun berturut-turut menghasilkan kenaikan nilai saham yang bersifat fenomenal.

Untuk menemukan faktor-faktor tersebut, Jim Collins yang adalah seorang seorang peneliti dan pakar manajemen yang ternama tersebut melakukan penelitian selama lima tahun atas 1435 perusahaan yang didaftarkan di dalam majalah Fortune sebagai perusahaan-perusahaan yang terbaik di Amerika. Berdasarkan penelitian tersebut Jim Collins mendapatkan 11 perusahaan yang dapat disebut sebagai perusahaan-perusahaan yang terhebat di bidangnya masing-masing. Lebih lanjut, dari kesebelas perusahaan tersebut ia menemukan tujuh faktor yang menyebabkan mereka bukan sekedar baik tetapi benar-benar hebat. Salah satu faktor yang sangat menonjol dari ketujuh faktor tersebut adalah faktor kepemimpinan di dalam perusahaan tadi.

Berdasarkan penelitiannya tersebut Jim Collins mengemukakan bahwa ciri kepemimpinan yang efektif sehingga mengakibatkan kemajuan yang luar biasa di dalam lembaga yang dipimpinnya adalah pemimpin yang rendah hati namun memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan yang terbaik bagi lembaganya. Kepemimpinan yang seperti ini diistilahkan oleh Jim Collins sebagai Level 5 Leadership atau Kepemimpinan Tingkat Kelima.

Ciri kepemimpinan ini merupakan kombinasi dari dua sifat yang nampaknya saling bertolak belakang satu dengan yang lain. Di satu sisi yang bersangkutan adalah seorang yang rendah hati, di sisi yang lain ia adalah seorang yang memiliki komitmen yang sangat tinggi untuk mencapai yang terbaik bagi lembaga yang ia pimpin. Hal ini nampak bertolak belakang, sebab seringkali orang yang rendah hati tidak memiliki semangat yang kuat untuk mencapai kemajuan. Sedangkan orang yang memiliki semangat yang kuat untuk kemajuan jarang yang memiliki sifat rendah hati, sehingga kemajuan yang ingin ia capai adalah demi kepentingan dirinya sendiri saja.

Dari sudut ini kita dapat menyimpulkan bahwa Yesus adalah seorang pelatih kepemimpinan yang luar biasa. Sebab apabila kita melihat diri para murid-Nya, jelas nampak bahwa latar belakang mereka adalah orang-orang yang ambisius dan ingin menonjolkan dirinya dibandingkan yang lain. Namun dengan anugerah-Nya Yesus mengubah orang-orang ini menjadi para pemimpin yang handal di dalam gereja-Nya dan memakai mereka menjadi alat yang efektif untuk membawa perkembangan yang luar biasa atas gereja-Nya.

Latar belakang diri para murid Yesus yang sangat bertolak belakang dengan Kepemimpinan Tingkat Kelima ini dapat kita lihat dari apa yang terjadi di antara mereka di tengah perjalanan dari kaki gunung tempat Yesus dimuliakan sampai ke kota Kapernaum. Sebagaimana yang dicatat di dalam Markus 9:30-37 apa yang mereka lakukan dalam perjalanan tersebut menunjukkan betapa para murid Yesus sulit untuk dikatakan sebagai orang yang bersifat rendah hati, justru sebaliknya yang nampak adalah kebebalan dan kecongkakan hati mereka.

Markus 9:30-37

30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang;  31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."  32  Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.  33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?"  34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.  35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."  36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:  37 "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.


I.      Kebebalan hati para murid Yesus

Apabila perjalanan ke gunung tempat Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan merupakan perjalanan yang dilakukan tanpa ingin menarik perhatian orang banyak, karena Yesus berada di atas gunung itu untuk berdoa, maka pengusiran roh jahat yang telah mengakibatkan seorang anak menderita sakit ayan di kampung yang terletak di kaki gunung itu tentu mengakibatkan kehadiran Yesus menarik perhatian orang banyak.

Sedangkan waktu yang Yesus miliki untuk para murid-Nya sudah semakin terbatas. Dalam waktu kurang dari enam bulan lagi Ia akan menghadapi penganiayaan di Yerusalem. Tentu Ia ingin menggunakan waktu yang ada itu untuk memberikan pengajaran-pengajaran yang penting bagi para murid-Nya. Itu sebabnya di dalam Markus 9:30-31 ditulis: Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya.

Di saat itu untuk kedua kalinya Yesus mengungkapkan secara terang-terangan kepada mereka tentang penganiayaan dan kematian yang akan Ia alami di Yerusalem. Dan sebagaimana yang juga Ia telah sampaikan di Kaisarea Filipi, Ia menegaskan bahwa di hari ketiga dari kematian-Nya Ia akan bangkit dari antara orang mati. Untuk itu di dalam Markus 9:31 dicatat bahwa Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya sedemikian: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit."

Mendengar apa yang Yesus ajarkan ini para murid-Nya tetap juga tidak mengerti apa yang Ia maksudkan. Di dalam Lukas 9:45 dicatat:      “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.”  Sedangkan di dalam Matius 17:23      dicatat mendengar perkataan Tuhan Yesus tersebut “maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali.”

Hal ini menunjukkan betapa bebalnya hati para murid Yesus. Mereka sudah berulang kali mendengar ajaran Yesus tentang penderitaan yang akan Ia alami. Ia sudah berulang kali mengatakan kepada mereka bahwa Ia akan mengalami kematian dan pada hari yang ketiga Ia akan bangkit dari kematian. Kalau sebelumnya Yesus mengajar mereka tentang hal ini dengan samar, sekarang untuk kedua kalinya Ia menyampaikan hal itu secara terang-terangan. Tetapi tetap juga apa yang Yesus ajarkan ini tidak dapat mereka pahami.

Dicatat walaupun mereka tidak memahami apa yang Yesus ajarkan, mereka tidak berani untuk meminta penjelasan kepada Yesus tentang hal tersebut. Hal ini mungkin karena mereka sudah dua kali mendengar perkataan itu dari Yesus dan mereka takut bahwa Yesus akan menegur mereka karena belum juga kunjung mengerti apa yang Ia ajarkan. Sehingga yang memenuhi hati mereka hanyalah perasaan yang sedih.


II.      Kecongkakan hati para murid Yesus

Sesungguhnya yang harus disedihkan bukanlah penderitaan yang akan dialami Yesus maupun kebebalan hati para murid Yesus yang mengakibatkan mereka lamban untuk mengerti apa yang Yesus ajarkan, tetapi kecongkakan mereka. Sikap congkak ini nampak dari pertengkaran yang terjadi di antara mereka sementara di dalam perjalanan menuju ke Kapernaum. Di dalam hal ini pertengkaran tentang siapa yang terbesar di antara mereka.

Kemungkinan tiga murid yang dibawa Yesus naik ke atas gunung, Petrus, Yohanes dan Yakobus merasa diri mereka lebih istimewa dibandingkan yang lain karena hanya mereka bertigalah yang diajak Yesus untuk naik ke atas gunung. Atau bisa jadi mereka bertiga mengejek kesembilan murid yang lain karena tidak berhasil mengusir roh dari dalam diri anak yang sakit ayan di kampung yang telah mereka tinggalkan. Tetapi apapun yang menjadi pemicu dari pertengkaran ini, yang pasti sebagaimana yang dicatat di dalam Markus 9:25 “di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.”

Hal ini  sangat menyedihkan, sebab pertengkaran tentang siapa yang paling besar di antara para murid Yesus ini terjadi tidak lama sesudah Yesus mengajar mereka tentang penderitaan yang akan Ia alami di Yerusalem. Berarti selain hal ini menunjukkan sifat kecongkakan di dalam diri mereka, juga sekaligus mempertegas kekebalan diri mereka. Sedemikian congkak dan bebalnya para murid ini sehingga mereka tidak memiliki kepekaan terhadap situasi yang akan mereka hadapi. Sebaliknya dari mencoba untuk memahami makna dari kematian dan kebangkitan Yesus yang luar biasa pentingnya bagi kehidupan seluruh umat manusia di dunia justru mereka mencoba mencari tahu siapa yang terhebat di antara mereka. Atau dengan kata lain mereka ini sama sekali tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai Pemimpin Tingkat Kelima.


III.      Kebesaran anugerah Yesus

Menanggapi kecongkakan dan kebebalan diri para murid ini Yesus melakukan dua hal. Yang pertama, sebagaimana yang ditulis di dalam Markus 9:35 sambil duduk Yesus berkata kepada kedua belas murid-Nya itu sedemikian: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." Yang kedua, di dalam Markus 9:36 ditulis Yesus mengambil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Dengan demikian Yesus mengajarkan kepada mereka syarat kepemimpinan yang sesungguhnya, yaitu kerendahan hati. Sikap rendah hati yang membuat orang tidak berupaya untuk menonjolkan diri, tetapi justru dalam kerendahan hati bersikap melayani orang yang lain. Sikap rendah hati yang membuat orang bersedia menerima orang yang dianggap lemah dan dianggap remeh oleh masyarakat, yang diumpamakan-Nya seperti seorang anak kecil yang seringkali diremehkan oleh orang dewasa.

Kesabaran Yesus di dalam memperlakukan para murid-Nya yang bebal dan congkak ini sungguh menunjukkan kebesaran dari anugerah-Nya. Dengan demikian Ia sendiri memberikan teladan tentang melayani dan menerima yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa Ia sendiri telah menjadi teladan dari Kepemimpinan Tingkat Kelima. Kebesaran anugerah-Nya inilah yang mengubah diri para murid-Nya sehingga di kemudian hari mereka dapat menjadi alat yang berguna bagi kerajaan Allah. Kebesaran anugerah-Nya ini pulalah yang membuat Ia bersedia menerima kita di dalam keberdosaan serta keterbatasan kita, memberikan kehidupan kekal serta mengubah hidup kita yang sia-sia menjadi kehidupan yang penuh dengan makna.
Comments
Search
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System

GKPB.NET Comment System"

 
Latest Message: 1 week ago
  • bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
  • Lorna : halo semua
  • Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
  • cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
  • cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
  • cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
  • Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
  • Riona : hallo, salam kenal semua
  • Riona : hallo, salam kenal semua..
  • hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
  • hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
  • julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
  • Toni HW : hallo, world...
  • micro : salam kenal, Gbu all
  • modalcoin : Salam kenal semua :-)
  • Johan : hello all
  • tolib : apa???
  • tolib : hai... ada yg lg
  • tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
  • Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
  • theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
  • martha prata : gbu too Tolib!
  • tolib : happy day GBU ALL
  • tolib : happy day... GBU ALL !!!
  • tolib : happy day,...

Only registered users are allowed to post