Langkah-langkah untuk menyelamatkan saudara yang berbuat dosa PDF Print E-mail
Articles
Written by Thomas E. Rahadja   
Sunday, 18 July 2010 23:07
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja

Dalam salah satu kunjungan saya ke Belanda, saya meminta tuan rumah saya untuk menghantar saya ke Rijkmuseum yang berada di pusat kota Amsterdam. Museum yang sangat luas dan telah berusia 200 tahun ini merupakan salah satu museum ternama di dunia. Di samping berbagai artefak sejarah dan karya seni lainnya, Rijkmuseum dikenal sebagai tempat dimana disimpan berbagai lukisan karya Rembrandt, pribadi yang dianggap sebagai salah seorang pelukis terbaik dari Eropa.

Salah satu karya Rembrandt yang paling terkenal yang disimpan di museum ini adalah lukisannya yang diberi nama the Night Watch, atau Sang Jaga Malam. Sedemikian pentingnya lukisan ini sehingga ia ditempatkan di dalam sebuah ruangan besar yang disediakan khusus untuk menyimpannya. Lukisan yang selesai dilukis pada tahun 1642 ini terkenal karena ukurannya yang sangat besar yaitu sekitar 3,5 kali 4,5 meter, keefektifan dari teknik pencahayaannya serta gaya pelukisannya dimana para tentara yang dilukiskan di situ digambarkan dalam keadaan sedang bergerak.

Sebagaimana yang sering terjadi dengan obyek-obyek seni yang ternama di dunia, karya Rembrandt ini juga tidak luput dari upaya perusakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Pada tahun 1975 seorang guru sekolah yang menganggur merobek lukisan tersebut dengan sebuah pisau roti sehingga mengakibatkan robekan berbentuk zig zag yang berukuran besar. Pada tahun 1990 seorang laki-laki menyemprotkan zat asam kepadanya sehingga menimbulkan kerusakan pada lapisan vernis pada lukisan yang harganya tak ternilai tersebut.

Namun lima belas tahun kemudian, saat saya mengunjungi Rijkmuseum dan  menyaksikan lukisan itu dari dekat, bekas dari kedua tindakan vandalisme yang mengerikan tersebut secara kasat mata sama sekali tidak terlihat. Para ahli restorasi benda seni telah merestorasi lukisan ini dengan ketrampilan mereka yang sangat tinggi sehingga kerusakan yang pernah terjadi dapat dihapuskan dan lukisan the Night Watch nampak seperti keadaannya yang semula.

Pemulihan yang seperti itu pulalah yang Tuhan telah lakukan bagi kehidupan kita yang sudah rusak karena dosa. Ia datang ke dunia dua ribu tahun yang lampau sebagai Sang Mesias untuk merestorasi hubungan kita dengan diri-Nya, dengan diri kita sendiri dan dengan sesama. Melalui pengorbanan-Nya sampai mati di kayu salib Ia menyelamatkan kita dari kehancuran dan memulihkan diri kita yang merupakan karya-Nya yang indah.

Sebagaimana Ia memulihkan  kehidupan kita, demikian juga Ia ingin himpunan umat-Nya yaitu gereja melakukan hal yang sama terhadap saudara-saudari seiman yang berbuat dosa. Sebaliknya dari secara langsung menolak mereka yang berbuat dosa, Yesus mengajar agar para pengikut-Nya berupaya sedapat mungkin untuk memulihkan saudaranya yang telah jatuh ke dalam dosa itu. Untuk itu di dalam  Matius 18:15-20 dicatat langkah-langkah pemulihan yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya.

Matius 18:15-20

15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.  16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.  17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.  18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.  19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.  20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."


I.      Memberi nasihat dalam kasih

Sesudah memberi peringatan kepada para murid-Nya tentang perlunya bersikap waspada terhadap bahaya penyesatan yang dapat terjadi atas diri anak-anak kecil, Yesus lebih lanjut di dalam Matius 18:12-14 mengungkapkan kasih-Nya terhadap para pengikut-Nya yang tersesat. Untuk itu Ia menggambarkan diri-Nya seperti gembala yang meninggalkan 99 dombanya demi mencari seekor yang tersesat. Sebagaimana yang dicatat di dalam Lukas 15:3-7 perumpamaan ini Ia ulang kembali saat Ia sudah meninggalkan Galilea dan mengajar di wilayah Perea yang terletak di sisi Timur sungai Yordan yang berbatasan dengan Laut Mati menjelang penderitaan-Nya di Yerusalem.

Dalam kaitan pengikut-Nya yang tersesat atau berbuat dosa tersebut, Ia mengajar para murid-Nya agar mereka juga melakukan hal yang sama dengan yang Ia lakukan yaitu berupaya untuk membawa orang yang telah berbuat dosa itu ke jalan hidup yang benar. Untuk itu pertama-tama para murid tersebut haruslah memberi nasihat secara pribadi kepada yang bersangkutan. Di dalam Matius 18:15 Ia berkata demikian: "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”

Tujuan pemberian nasihat di bawah empat mata ini di satu sisi adalah untuk menyadarkan yang bersangkutan, sedangkan di sisi yang lain adalah untuk tidak mempermalukan orang tersebut, khususnya apabila dosa yang ia lakukan baru pada tahap yang awal sehingga belum menjadi pengetahuan umum. Berarti nasihat ini haruslah dilakukan karena kasih yaitu untuk menyadarkan saudara yang berdosa tersebut, dan harus dilakukan dengan kasih yaitu tidak dengan cara yang mempermalukan yang bersangkutan.


II.      Memberi nasihat dengan tegas

Hanya saja kasih tidaklah boleh terlepas dari ketegasan. Kasih tanpa ketegasan bukanlah kasih tetapi memanjakan secara tidak bertanggungjawab. Sedangkan ketegasan tanpa kasih tidak akan mendatangkan kebaikan sebaliknya hanya menimbulkan kepahitan dan jiwa pemberontakan dalam diri orang yang dibina. Oleh karena itu di samping mengajar agar para murid-Nya memberi nasihat kepada saudaranya yang berdosa dengan kasih, Yesus juga mengajar mereka untuk berlaku tegas.

Apabila kasih tersebut diwujudkan dalam bentuk sikap tidak berputus asa bila saudara yang telah dinasihati itu tidak juga kunjung bertobat, maka ketegasan ini diwujudkan dalam bentuk peringatan yang tingkat intensitasnya bertahap dan semakin bertambah tinggi. Karena itu di dalam Matius 18:16-17 lebih lanjut Yesus berkata demikian kepada para murid-Nya: “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”

Berarti dengan demikian Yesus mengajarkan empat tahapan dalam memberikan nasihat apabila saudara yang berdosa itu tidak juga kunjung bertobat dari dosa-dosanya. Setiap tahapan mengandung tingkat keseriusan yang semakin meningkat dan dengan konsekuensi yang semakin besar serta lingkup orang memberi nasihat semakin bertambah luas.

Tahap yang pertama yaitu dengan memberi nasihat secara pribadi. Namun apabila yang bersangkutan tidak mau bertobat tahap yang kedua adalah dengan memberi nasihat di hadapan dua atau tiga orang saksi. Keberadaan para saksi ini adalah dengan tujuan agar perkara tersebut tidak disangsikan. Hal ini berarti orang yang berdosa tersebut tidak dapat berdalih bahwa ia tidak pernah melakukan dosa yang disampaikan kepadanya. Sebab sebagaimana yang diatur di dalam kitab Ulangan 19:15 adanya dua atau tiga orang yang memberikan kesaksian atas perbuatan dosa yang ia lakukan maka perkara yang disampaikan kepada orang tersebut tak dapat lagi diingkari. Di samping itu dengan adanya dua atau tiga orang saksi  maka orang tersebut mengerti bahwa tegoran yang disampaikan kepadanya bersifat serius, dan ia tidak dapat berdalih bahwa ia belum pernah diperingatkan akan dosanya.

Tetapi bila tahap yang kedua ini masih juga diabaikan oleh saudara yang berdosa tersebut, maka sebagai tahap yang ketiga Yesus mengajar agar perkara tersebut disampaikan secara terbuka kepada jemaat. Di sini kata ekklesia atau jemaat dalam bahasa Yunani untuk kedua kalinya dicatat di dalam kitab Injil. Apabila di Matius 16:18 kata ekklesia pertama kali digunakan dalam arti gereja secara universal, yaitu himpunan pengikut Yesus di seluruh dunia di sepanjang sejarah, maka kata ekklesia yang kedua kali ini dalam arti jemaat lokal, yaitu himpunan pengikut Yesus di suatu lokasi tertentu. Sebab tentu tidaklah mungkin untuk menyampaikan suatu perkara ke seluruh dunia atau ke semua orang percaya di suatu wilayah yang luas.

Tujuan dalam menyampaikan perkara ini kepada jemaat tentu bukan untuk mempermalukan orang tersebut, tetapi agar ia dan seluruh jemaat menyadari keseriusan dosa yang ia buat. Di samping itu agar seluruh anggota jemaat dapat menasihati yang bersangkutan. Tetapi kalau nasihat inipun masih juga diabaikan, maka seperti yang Yesus ajarkan yang bersangkutan harus dipandang “sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”  Di dalam statusnya yang dipandang sebagai seorang yang tidak mengenal Allah maka ia tidak boleh dilibatkan dalam berbagai hal di lingkup berjemaat yang hanya diperuntukkan untuk pengikut Kristus saja, seperti misalkan menduduki jabatan pelayanan tertentu dalam gereja atau hal-hal lain yang diatur oleh setiap jemaat lokal.


III.      Memberi nasihat dengan otoritas ilahi

Tentu tindakan pengucilan atau ekskomunikasi ini bukan berarti Yesus mengajar bahwa tidak ada keselamatan di luar gereja, atau dalam bahasa Latin disebut sebagai Extra Ecclesiam nulla salus, sebab keselamatan Ia sediakan di dalam iman kepada-Nya dan bukan di dalam institusi gereja. Namun dengan mengajar bahwa gereja berhak untuk memandang seorang yang tidak mau bertobat dari dosanya sebagai orang yang tidak mengenal Allah dan yang harus diasingkan seperti orang Yahudi memperlakukan pemungut cukai, Yesus menyatakan bahwa kepada gereja-Nya Ia memberikan otoritas ilahi. Dengan demikian nasihat ataupun peringatan yang disampaikan oleh pemimpin jemaat yang dilakukan dalam kasih sesungguhnya memiliki otoritas ilahi di dalamnya.

Di dalam Matius 18:18-20 Yesus menegaskan otoritas yang Ia berikan kepada gereja tersebut dengan berkata: “Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Ajaran Yesus ini menegaskan perlunya upaya dengan sungguh-sungguh untuk menolong saudara-saudari yang telah berbuat dosa. Tidak membiarkan mereka berlarut-larut dalam dosanya, namun di dalam kasih, ketegasan dan wibawa ilahi kita berupaya untuk memulihkannya kepada kebenaran. Hal itulah yang Yesus sudah lakukan bagi diri kita, di dalam kasih-Nya Ia telah menyelamatkan kita. Melalui pengorbanan-Nya Ia telah memulihkan hidup kita dari kesia-sian kepada hidup yang pemuh makna.
Comments
Search
Only registered users can write comments!
GKPB.NET Comment System

GKPB.NET Comment System"

 
Latest Message: 4 days, 23 hours ago
  • bob : untuk dumian...kalau gratis mungkin sulit...tapi kalau agak murah kita bisa usahakan
  • Lorna : halo semua
  • Dumian : hai..ada yang punya sponsor atau info untuk bisa dapatin kaos gratis ga untuk komunitas di sebuah kota? misalnya untuk pelayanan remaja? thx b4. GBU
  • cicik79 : pls.. kirim ke cicik79@yahoo.com anybody know about SHine by GKPB...
  • cicik79 : tertarik juga nih dengan SHine... bisa tau informasi selengkapnya ttg shine ya...India lg perlu nih...mohon bantuannya ya.. Makasih
  • cicik79 : ikutan ah.. gue datang jauh2 dari India lho...tp member GKPB MDC, kangen neh ama GKPB, pa kabarnya?
  • Riona : @adminb&all: apa ada yang punya informasi kapan reat-reat Shine dilaksanakan? terima kasih sebelumnya...
  • Riona : hallo, salam kenal semua
  • Riona : hallo, salam kenal semua..
  • hengkycandra : @admin: Shalom! saya mau submit blog tapi koq gak bisa yachh...ada apa yachh? blog saya di image-smg.blogspot.com
  • hengkycandra : Hi everyone...salam kenal yachh...visit my blog at «link»
  • julhan : Hi all, selamat beraktifitas - GBU
  • Toni HW : hallo, world...
  • micro : salam kenal, Gbu all
  • modalcoin : Salam kenal semua :-)
  • Johan : hello all
  • tolib : apa???
  • tolib : hai... ada yg lg
  • tolib : salam sukses untuk semua, GBU ALL
  • Aliuz : Seorang pelayan yang setia adalah pelayan yang berkorban bagi Tuannya tanpa memperdulikan dirinya, yang terpenting adalah kepuasan dari Tuannya
  • theosh : Menjadi Pelayan Mimbar Gereja adalah kumpulan para pelayan, ketika kita mengambil keputusan untuk menjadi jemaat terdaftar, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjadi Pelayan dan melibatkan diri dalam satu bidang pelayanan. Tetapi sayang, masih didapati motivasi yang tidak benar ketika seseorang ingin terlibat dalam pelayanan, sebagian besar masih berpikir bahwa terlibat dalam pelayanan adalah untuk mendapat atau menerima sesuatu dari pelayanan itu. faktor inilah yang menjadi penyebab utam
  • martha prata : gbu too Tolib!
  • tolib : happy day GBU ALL
  • tolib : happy day... GBU ALL !!!
  • tolib : happy day,...

Only registered users are allowed to post