|
KESAN Services -
Articles
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja
Dua ratus lima puluh tahun yang lampau di Inggris hidup seorang kapten pelaut yang bekerja pada sebuah kapal yang membawa para budak dari Sierra Leone, Afrika ke daratan Eropa. Pada masa itu para budak ini diperlakukan dengan sangat kejam dan melampaui batas-batas kemanusiaan. Dalam keadaan terantai mereka dijejalkan kedalam ruang kapal yang tanpa ventilasi dan fasilitas toliet sama sekali. Berminggu-minggu mereka harus berada dalam keadaan seperti itu sampai mereka tiba di Eropa dan diperjual belikan seperti hewan.
Suatu malam dalam pelayaran di Samudra Atlantik, kapal yang dibawa oleh kapten kapal ini tertimpa badai. Si kapten terbangun dari tidurnya dan ia mendapati kapalnya sudah penuh terisi dengan air dan hampir tenggelam. Segera ia naik ke anjungan dan berusaha mengemudikan kapalnya menembusi badai tersebut. Sebagian dari muatan kapalnya telah hanyut ke laut. Semua anak buah kapalnya mengikat diri dengan tali agar tak hanyut terhempas gelombang yang dahyat.
Dalam keadaan yang sangat genting itu si kapten teringat kepada masa kecilnya, yaitu saat ibunya masih hidup. Ia teringat bagaimana setiap malam ibunya membacakan ayat-ayat Alkitab bagi dirinya dan mengajak dia berdoa sebelum tidur. Bertahun-tahun dalam kebejatan hidupnya si kapten ini telah melupakan apa yang diajarkan ibunya. Sekarang, di tengah badai ia teringat kembali kepada Tuhan serta berseru memohon belas kasihan-Nya. Akhirnya kapal itu berhasil melewati badai dan tiba di pelabuhan Liverpool, Inggris dalam keadaan porak poranda.
|
|
Read more...
|
|
|
KESAN Services -
Articles
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja
Seorang calon presiden direktur sebuah bank datang menjumpai presiden direktur yang tak lama lagi akan ia gantikan. Yang bersangkutan ingin meminta nasihat tentang rahasia keberhasilan yang telah dicapai oleh presiden direktur yang akan segera pensiun tersebut. Menjawab permintaan nasihat itu si presiden direktur mengucapkan tiga patah kata saja, yaitu: “Keputusan yang baik.”
Si orang muda itu ingin mengetahui lebih jauh jawaban dari presiden direktur yang akan ia gantikan. Karena itu ia bertanya bagaimana seseorang dapat membuat keputusan yang baik. Si presiden direktur pun menjawab dengan sepatah kata: “Pengalaman.”
Mendengar jawaban ini si calon presiden direktur merasa semakin bertambah penasaran. Ia bertanya lagi bagaimana seseorang dapat mengambil hikmah dari pengalaman. Sang presiden direktur itu pun menjawab kembali dengan tiga patah kata: “Keputusan yang buruk.” Artinya sebelum seseorang dapat membuat keputusan yang baik ia harus terlebih dahulu pernah membuat keputusan yang buruk.
|
|
Read more...
|
|
KESAN Services -
Articles
|
Ditulis oleh: Bambang H. Widjaja
Mengapa ada perusahaan-perusahaan yang mampu melejit dari sekedar perusahaan yang baik menjadi perusahaan yang hebat, tetapi ada perusahaan-perusahaan yang hanya bertahan sebagai perusahaan yang baik dan tak pernah bertumbuh menjadi hebat? Pertanyaan inilah yang mengganggu pikiran Jim Collins, seorang pakar manajemen dari Amerika yang sangat terkenal di dunia. Untuk itu ia membentuk team guna melakukan penelitian selama lima tahun penuh atas 1.435 perusahaan yang didaftarkan dalam Fortune 500.
Berdasarkan analisa atas nilai saham selama lima belas tahun dari perusahaan-perusahaan tersebut, Jim Collins menyimpulkan hanya sebelas perusahaan saja di antara 1.435 perusahaan tersebut yang pantas disebut sebagai perusahaan-perusahaan yang hebat. Kemudian Jim Collins mencoba mencari tahu faktor-faktor apakah yang mengakibatkan perusahaan-perusahaan ini menjadi hebat, bukan sekedar baik seperti perusahaan-perusahaan yang lain. Di dalam penelitian yang ia lakukan, Jim Collins menemukan adanya tujuh faktor yang membedakan antara kedua kelompok perusahaan tersebut. Hasil penelitian ini ia tulis dalam bukunya yang sangat terkenal, From Good to Great, atau Dari Baik menjadi Hebat.
Di dalam buku tersebut Jim Collins mengemukakan faktor pertama dari ketujuh faktor yang mengakibatkan suatu perusahaan bertumbuh dari baik menjadi hebat yaitu adalah faktor kepemimpinan dalam perusahaan tersebut. Ia mengistilahkannya sebagai Level 5 Leadership, atau Kepemimpinan Tingkat Lima. Bila suatu perusahaan atau lembaga dipimpin oleh Level 5 Leadership atau Pemimpin Tingkat Lima, maka perusahaan atau lembaga itu akan melejit dari baik menjadi hebat.
|
|
Read more...
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 1 of 139 |